Udara panas di siang hari bulan Juli benar-benar memanggang kepala. Sudah sekitar empat puluh lima menit kereta yang aku tunggu belum juga datang, tak disangka rumor kereta terlambat belum hilang sejak ditulisnya lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa” oleh om Iwan Fals. Sekedar untuk menghibur dan menenangkan diri, lalu aku bersenandung lagu itu di dalam hati.
Aku masih sangat percaya, pada kebodohanku saat itu. Kebodohan karena sebuah pertanyaan seorang anak kecil
yang dia utarakan kepadaku. Mereka benar-benar berkualitas filsuf,
pertanyaan yang sangat cerdas yang bagi orang bodoh sepertiku sangat
membingungkan.
Walaupun aku terkadang meragukan nilai pertanyaan itu, karena sekilas
mereka bertanya karena suatu kebetulan saja. Begitu indah pemikiran
seorang anak-anak, mereka memiliki rasa penasaran yang mengalir tanpa
ada hambatan logika dan fakta, rasa penasaran yang murni yang mereka
utarakan tanpa didahului melihat nilai-nilai orang dewasa. Mereka
melihat, mendengar, merasakan lingkungan dan orang lain, dan melahirkan
berjuta penasaran di kepalanya, dan sekali lagi mereka tak akan
segan-segan menanyakan kebenaran yang semestinya.
Saat itu aku sedang berjalan di trotoar setelah keluar dari sebuah
minimarket, tepat di depan minimarket adalah lampu APIL. Seharusnya aku
menyeberang melewati zebracross di jalan itu, tapi harus tertahan oleh
suara panggilan teman lama.
Aku urungkan niat untuk menyeberang jalan, dengan senyum bahagia aku
mendekati teman lamaku. Cukup lama kami bernostalgia ria sambil duduk
dieperan minimarket, dari perbincangan itu ternyata dia sudah
berkeluarga dan sekarang sudah memiliki seorang anak laki-laki.
“Jadi kamu sudah punya putra?…”
“Iya,… kamu jangan kelamaan melajang, kapan mau menikah…haha…”
“Haha… belum menemukan yang cocok…”
“Yah… diniati cari ya! Nanti pasti dapat yang cocok… kalau Cuma duduk saja kapan punya momongan…”
“Haha… sudahlah aku bingung nih kalau ngobrolin soal jodoh…”
“Jangan Cuma Move on dong, Jump on… lupain si… siapa dulu ayankmu waktu kuliah?…”
“Aku sudah lupa!!!…”
“Serius?…”
“Kamu mau bikin aku move on atau sebaliknya?…”
“Bercanda bro… haha”
“Ayah!!!…” tiba-tiba ada suara anak laki-laki kecil yang kini dia berlari memeluk teman lamaku.
“Ini putraku Rud,… ayo de kenalan sama om Rudy…”
Aku tersenyum kepadanya, menanyakan namanya, tapi dia hanya malu-malu di balik punggung ayahnya.
Tidak lama berselang, keluar seorang wanita muda dari pintu
minimarket. Aku kenal dia, Nurul Isnaeni pemenang lomba baca puisi yang
pernah organisasiku di kampusku adakan.
“Loh… Mas Rudy,…”
“Mba Nurul,… owalah ternyata ya,…” aku menepuk pundak teman lamaku penuh rasa salut.
“Apa to, biasa saja tidak usah terkejut seperti itu…”
“Siapa yang terkejut…” balasku kepada teman lamaku.
“Mas Rudy sekarang kerja dimana?…” Nurul bertanya kepadaku sambil melayani anaknya yang rewel meminta es krim di tangan ibunya.
“Deket sini mba, itu gedung kantorku…”
Nurul mengangguk kepadaku tapi dia kembali meladeni anaknya yang semakin rewel.
“Ma… Maa ade yang pegang es krimnya…”
“Nanti jatuh semua, yang ditangan ade kan belum habis…”
“Maa…”
Akhirnya anak laki-laki yang sedang rewelnya itu berhasil membuat ibunya memberikan es krim yang utuh.
“Om… Mail punya es krim dua…”
Aku tersenyum lebar kepada teman lamaku.
“Buat Om satu sini… anakmu lucu juga Yos, tadi malu-malu sekarang
pamer es krim haha…” aku melihat anak kecil itu dan berpaling kepada
teman lamaku.
“Ini es krim mail yang satu buat Om… jangan dimakan!…”
“Loh ko jangan dimakan?…”
“Iya… soalnya yang ini buat anak om dirumah…”
“Rumah Om jauh, nanti mencair dijalan…”
Tiba-tiba keluar seorang wanita cantik dari dalam minimarket dan
langsung menyapa kami semua. Dia adalah Fani Fatmawati teman satu
kelasku saat kuliah.
“Loh Mas Yosi disini,… Mba Nurul juga…”
Nurul dan Fani saling cipika-cipiki, sedang Mail dengan manjanya duduk di pangkuan ayahnya.
“Ayah… es nya pegangin…”
“Buat ayah de?…”
“Jangan,… pegangin saja,…” mail lalu turun dari pangkuan ayahnya dan
menarik tangan ibunya. “Yah… mama cobain es krimnya! Yah… Suapin mama es
krimnya…”
“Ade… jangan rewel ayo… malu sama om tante…” ibunya memberi intruksi.
“Yah… ayah, cepet mama biar ikut makan es krimnya…”
Akhirnya Yosi teman lamaku dan Nurul sebagai pasangan suami istri
mengalah kepada anaknya, lalu mereka saling menyuapi es krim itu. Aku
hanya bisa melihat suami istri itu yang sedang mesra.
“Om… juga suapi Tante, kaya ayah ibu Mail…” dia menarik-narik
tanganku yang memegang es krim untuk didekatkan kepada Fani. Tapi, aku
menahan tenaganya.
“Ayo dong om, kaya ayah sama ibu Mail…”
“Tapi om tidak bisa,…” jawabku halus kepadanya.
“Kenapa om, ayah sama ibu Mail ko bisa?…” aku diam dan melirik Fani.
“Ya sudah, kalau begitu es krimnya kembalikan ke Mail…” dia terlihat mengambek, dan ku berikan es tersebut kepadanya.
“Ini buat tante…”
“Makasih ade Mail…” Fani mengelus-elus rambut Mail dengan halus.
“Tante Suapin om Rudy!!!…”
Fani terlihat bingung.
“Tapi tante tidak bisa…” wajah Fani terlihat memerah muda.
“Kenapa tidak bisa tante?…”
“Anu… gimana ya… pokoknya tante belum bisa…”
“Ya sudah, tapi tante janji es krimnya buat anak om sama tante…”
“Anu tante belum…” Fani terdengar memotong kata-katanya sendiri dan memandang Nurul dengan senyum bingung.
Kenyataannya setelah hari itu, pertanyaan Mail kenapa aku tidak bisa
menyuapi es krim kepada Fani ataupun sebaliknya belum aku jawab secara
gamblang kepada Mail. Semoga Mail tidak terlalu penasaran akan hal itu.
Yang jelas. Kenyataannya. Setelah delapan bulan berlalu setelah
pertemuanku dengan Yosi teman lamaku dan istrinya. Kini, aku sedang
membeli es krim di minimarket itu.
“Kamu mau yang rasa apa?…”
“Yang coklat boleh…”
“Mau disuapin?…”
Fani mencubitku.
“Nggombalnya dirumah saja!!!…” suaranya lirih.
“Siapppp…”
anak kecil
penuh dengan pemikiran nan bebas
tanpa terframe oleh teori, ideologi, status sosial dan politik
mereka bersih,
mereka pantas,
pantas anak kecil bertanya apa saja
anak kecil, walau kecil mereka memiliki pemikiran yang besar
anak kecil
Malam ini aku masih duduk sendiri di
warung lesehan dekat kampusku, seperti malam-malam minggu sebelumnya.
Seperti biasa nasi kepala ayam dengan porsi besar selalu aku pesan untuk
memuaskan perut. Sebagai seorang pelanggan yang datang tanpa teman,
selalu saja ada pihak yang berani menyinggung keadaan ini
Aku terdampar sendiri di
pojok ruang segi empat ini, di tengah keramaiannya. Ribuan kata
terlontar saling beterbangan tepat di depan mata. Hanya saja, hanya aku,
hanya mungkin yang terpaku diam, di dalam kelas hiruk pikuk ini.
Beberapa kali kertas remasan yang terlempar-lempar oleh anak kelasku,
menyasar kepadaku. Aku masih terdiam, memikul seribu kebingungan.
Guru matematika memasuki ruangan kelas,
dengan beberapa buku di tangannya. Perlahan tangannya menghapus setiap
sisi papan yang penuh coretan kapur, lalu beranjak kemejanya membuka
halaman-halaman bukunya. Dia berdiri ke sebelah papan tulis, dengan
matanya yang masih tertuju serius ke halaman bukunya, dia meraba-raba
tempat kapur tulis. Kosong.
Tatapannya pecah, tak ada kapur tulis,
maka tak ada kata dan angka tertulis di papan. Matanya tajam melihat
seisi ruang, mencari setiap laki-laki berbaju lusuh, lusuh setelah
perang kapur yang menyenangkan. Aku, aku tak pernah terlibat dalam
pertempuran menarik itu, tidak pernah.
Aku yang duduk diam, tanpa teman semeja,
tanpa lawan bicara, apa lagi lawan lempar kapur dan kertas remasan,
tapi keadaan sekarang aku dicurigai telah menghabiskan kapur. Dia
melihat bajuku yang lusuh penuh lipatan. Melihat begitu berserakan
kapur-kapur kecil di sekitar mejaku, target setiap lemparan-lemparan
kapur yang tak tepat sasaran. Guru matematika berjalan pelan
mendekatiku, memberi petunjuk bahwa kapur-kapur berserakan di sekitar
mejaku.
Kata-katanya pelan, tegas, penuh makna perintah. “Ambil kapur di kantor sekolah !!!.“
Aku tak bisa mengatakan apa-apa, tak ada
rangkaian kata yang saling menyatu membentuk sebuah kalimat, atau
setidaknya satu kata Iya atau tidak, untuk menegaskan aku menyetujui
perintahnya atau menolaknya.
Terlalu
lama tidak berteman, telah merenggut kemampuan komunikasiku. Terlalu
lama tidak berteman telah menyebabkan sampah-sampah kapur menumpuk di
pojok kelasku. Anak berteman, tidak akan membiarkan kapur yang terlempar
kepadanya didiamkan, dia akan melempar kembali kapur itu ke punggung
teman lainnnya.
Aku beranjak dari mejaku, melangkah
meninggalkan pojok ruangan yang sunyi itu. Terdengar suara krak,
kapur-kapur kecil hancur oleh sepatu usangku. Guru matematika berjalan
mengikutiku menuju depan kelas lagi, bunyi krak kembali terdengar.
Jatah kapur tulis kelasku hari ini
tinggal tiga, sekolah membatasi hanya sepuluh per hari per kelas karena
fenomena perang kapur. Buku besar bergaris di meja guru piket penyedia
kapur, telah tertulis tiga nama anak dari kelasku, termasuk aku. Tiga
anak telah mengambil kapur untuk kelasku, untuk perang kapur yang tak
akan berakhir hingga suara bell pulang bergetar kaku.
Halaman sekolah sepi, hanya terlihat
beberapa guru yang berjalan terburu-buru kembali kekelas setelah
memenuhi panggilan alam di wc umum sekolah yang terlampau wangi
menyesakkan. Beberapa gadis tetangga kelas, berjalan dengan celoteh
ramai disetiap langkahnya. Mengapa para gadis tak pernah berani ke wc
umum sendirian? Akan tetap menjadi misteri laki-laki seumur hidupnya.
Pintu kelas tertutup rapat, tak ada
jendela kaca di tembok samping pintu, menghalangiku melihat keadaan
didalam kelas dari luar. Pintu aku buka pelan-pelan, takut membuat
berisik mengganggu guru menerangkan materi yang rumit.
Pintu terbuka lebar, pandanganku terpaku
sesaat. Guru matematika tidak di dalam kelas, panggilan alam menguatkan
langkah kakinya meninggalkan kelas. Aku masuk kedalam kelas, dengan
tiga kapur di genggaman tanganku.
“Brakk….
Aku jatuh ke lantai, jemari tanganku
terbuka, kapur-kapur panjang bertebaran terbelah-belah. Kini tak ada
lagi kapur yang panjang, semua telah menjadi potongan kecil yang siap
meledak. Aku melihat seorang anak laki-laki bangkit dari jatuhnya. Dia
menabrakku ketika sesaat aku masuk kedalam kelas. Matanya kaget, penuh
rasa bersalah. Sementara beberapa anak laki-laki di kursi deretan tengah
sedang tertawa lepas.
“Tak…
Sebuah kapur kecil mendarat di kepalaku.
“Tak…Tak…Tak…
Serbuan peluru kapur menggempur anak
laki-laki yang sedang berusaha bangkit dari jatuhnya, dia tidak merasa
marah, dia tertawa penuh dan memasang tangannya untuk tameng pertahannan
perang. Beberapa kapur yang berterbangan mengenaiku, beberapa kapurku
yang patah di ambil anak laki-laki itu, lalu melemparnya dengan gempuran
yang mengesankan. Kapur-kapur itu berterbangan menuju meja-meja anak
laki-laki di deretan belakang. Puluhan anak perempuan berontak keras,
mengomel memprotes namun tak di hiraukan. Beberapa kapur mengenai jidat
mereka, para anak perempuan semakin kecewa.
Para anak perempuan mengambil sisa-sisa
peluru kapur yang mendarat di meja mereka. Mereka mengumpulkannya untuk
disita, perlahan jumlah kapur yang terlempar berkurang, sampai akhirnya
habis tersita oleh para anak perempuan.
Kini, protes datang dari para anak
laki-laki. Dengan wajah cemberut manyun, para anak perempuan membuang
muka dari para anak laki-laki, sedang tangannya menggenggam erat puluhan
potongan peluru kapur.
Tak kuat diprotes oleh anak laki-laki
yang kata-katanya semakin menyudutkan mereka. Salah satu anak perempuan,
membuka tangan penuh kapur itu. Perang kapur antara anak laki-laki dan
perempuan telah berkobar.
“Tak… Tak,
Sekarang semakin sering aku terkena peluru nyasar dari mereka. Aku masih berdiri diam tidak berkutik di depan kelas.
Tanganku mengepal, tekadku bulat, tak
inginku hanya menjadi pigura perang kelas tensi tinggi ini. Aku ambil
potongan kapur nyasar itu, ku genggam erat kuat, dan ancang-ancang.
“Akhhhgrrrccc… awas…”
Lemparanku mengenai seorang anak
perempuan yang sedang membaca buku, yang tenang tidak mengikuti perang
panas ini. Semua anak di kelas tiba-tiba diam, sunyi tak ada suara. Aku
bingung, sungguh bingung.
“Tak.. Tak… Trak
Aku melempar kapur kesembarang arah, aku
tak mau malu, aku akan menyulut perang kapur ini, demi kehormatanku.
Beberapa anak perempuan galak terkena seranganku, mereka mulai tersulut
oleh lemparanku. Anak perempuan yang tadi membaca buku dan tenang itu,
kini berdiri dan memasang ancang-ancang melempar kepadaku. Matanya
merah, penuh amarah.
Perang kapur jilid dua kembali terjadi,
antara aku dan semua anak perempuan di kelas. Sesaat setelah aku mulai
lengah, bantuan akhirnya datang.
“Jaya, aku minta kapurnya!…”
Anak laki-laki yang tadi menabrakku,
memanggilku dan meminta persediaan peluru yang aku miliki. Dia mulai
melempar kepada anak perempuan, sedang akhirnya anak laki-laki lainnya
mengikutinya, mengumpulkan kapur yang berjatuhan di lantai, dan
melemparkannya. Perang kembali berkobar membara.
Pintu kelas berderik, guru matematika
berdiri di ambang pintu. Sesaat itu juga kami kalah, kalah dari anak
perempuan dalam pertempuran kapur. Aku dan beberapa anak laki-laki,
dijewer keluar sampai masuk ruang bimbingan konseling. Kupingku panas,
panas oleh jeweran dan oleh omelan guru. Setelah perang itu, selalu ada
perang kapur yang selanjutnya. Setelah perang itu, setelah dua minggu
aku pindah ke sekolah ini, setelahnya aku telah mempunyai teman.
Desa
kami kedatangan seorang tamu. Tamu yang istimewa. Di kota, profesi
beliau disebut motivator. Yang dilakukannya adalah memberi semangat
kepada orang lain. Orang kota memang hebat. Banyak hal bisa dijadikan
pekerjaan. Bahkan memberi semangat bisa dihitung sebagai pekerjaan.
Motivator
tersebut didatangkan ke desa kami oleh kepala desa. Katanya sang
motivator bakal mengadakan seminar kepada para warga desa. Panggung dan
kursi sudah disiapkan dib alai desa. Kepala desa jauh-jauh hari sudah
mengabarkan hal ini. Beliau mengharapkan agar kami, seluruh warga desa
bisa hadir dalam acara tersebut.
Ah,
kepala desa kami memang sangat perhatian terhadap kami. Bahkan untuk
urusan semangat kami pun beliau perhatikan. Karena itulah tak heran
bahwa kami sangat menghormati kepala desa kami tersebut. Sudah hampir
genap 20 tahun beliau menjadi kepala desa tanpa ada keinginan dari kami
untuk menggantinya. Kami pun tak pernah sekalipun mempertanyakan
digunakan untuk apa dana bantuan dari pemerintah yang diperuntukkan
pembangunan desa-desa. Kami para warga desa telah memasrahkan seluruh
urusan desa kepada beliau.
Sebenarnyakami,
para warga desa, tidak sungguh-sungguh memahami apa itu motivator. Bila
motivator adalah orang yang tugasnya memberikan semangat untuk orang
lain, kami tidak merasa membutuhkannya. Tiap hari kami selalu berangkat
ke sawah dengan penuh semangat. Apa lagi ketika musim panen seperti
sekarang ini. Kami selalu setia mengurusi sawah kami, sebagaimana yang
dilakukan oleh bapak kami, kakek kami, bapak dari kakek kami, kakek dari
kakek kami, dan seterusnya, dan seterusnya. Karena itu, kami tak
mengerti apa tujuan kepala desa kami mendatangkan seorang motivator
jauh-jauh dari kota ke desa kami. Tetapi kami yakin, kepala desa kami
pasti membuat keputusan yang terbaik.
-o0O0o-(Motivator Masuk Desa)
Sang
motivator melihat hamparan sawah dari balik kaca jendela mobilnya.
Motivatot tersebut membayangkan, seandainya sawah-sawah di negara ini
ditangani oleh tenaga-tenaga ahli yang profesional dan teknologi yang
maju, pasti negara ini bisa kembali mengalami swasembada beras.
Sayangnya yang kini mengurus sawah-sawah adalah petani-petani kecil
sedangkan para orang kaya mengabaikannya dan terus makan nasi tanpa
peduli apakah beras itu adalah beras negeri sendiri atau beras impor.
Selama
ini, sang motivator hanya melakukan seminar di kota-kota. Oleh karena
itulah dirinya cukup terkejut saat seorang kepala desa menghubunginya
dan memintanya untuk melakukan ceramah di sebuah desa pinggiran. Menurut
kepala desa tersebut, beliau terkesan saat melihat penampilan sang
motivator di televisi. Lalu sang kepala desa berharap agar para warga
desa mau mendengar ceramahnya. Untuk apa? Tentu saja agar para para
tersebut menjadi lebih baik.
Sang
motivator sudah menyiapkan seluruh materi untuk malam nanti di dalam
tas hitamnya. Preparation makes perfect. Begitulah motto miliknya.
Motivator tersebut sudah siap mengubah pola pikir seluruh warga desa
ini. Atau setidaknya itulah yang diharapkannya.
-o0O0o-
Para
warga desa sudah memenuhi kursi yang disediakan. Bahkan tak sedikit
warga yang rela berdiri di belakang demi menyaksikan aksi sang mptivator
di atas panggung. Maklum, mereka selalu antusias dengan segala sesuatu
yang berasal dari kota.
Sang
motivator pun memulai ceramahnya dengan penuh semangat. Motivator
tersebut mengeluarkan pancingan-pancingan yang biasanya berhasil menarik
perhatian para pendengarnya. Tetapi kali ini tidak. Para warga desa
tidak mengerti apa yang diucapkan oleh motivator tersebut. Meski begitu
sang motivator tetap tidak menyerah.
Di tengah-tengah situasi tersebut, tiba-tiba muncul seorang pemuda desa yang datang dengan tergesa-gesa.
“ADA MALING PADI!!!!” teriak pemuda itu.
Semua
warga desa yang hadir di situ kontan terkejut. Mereka langsung berlari
mengikuti pemuda tersebut untuk menangkap pencuri padi yang baru
dikabarkan tadi. Bahkan yang tidak memiliki sawah pun ikut pergi.
Akhirnya
hanya tinggal kepala desa dan sang motivator yang tersisa di tempat
itu. Motivator tersebut terdiam memandangi kursi-kursi kosong yang ada
di hadapannya.
“Maaf, Pak Motivator,” ucap kepala desa pelan kepada sang motivator.
“Kenapa, Pak?” balas motivator itu lemah. Hilang sudah semangatnya yang berapi-api tadi.
“Saya mau menyusul ke tempat kejadian itu juga. Saya tidak boleh membiarkan mereka main hakim sendiri.”
“Silakan, Pak.” jawab sang motivator pasrah.
Yogyakarta, 28 Januari 2015 (Motivator Masuk Desa)
“Kenapa kamu pulangnya terlambat?…” bertanya ibu Mulyasertaningrat
kepada anaknya Mulyono Budi Utomo melihat anaknya pulang terlambat
dengan wajah kusam dan baju kusut.
Mulyono hanya diam saja ibunya menginterograsi keterlambatan
pulangnya hari senin ini. Dihari pertama Mulyono masuk sekolah SMA
MAHALSEKALI setelah liburan semester biasanya sekolah akan memulangkan
murid-muridnya lebih awal. Tetapi apa yang terjadi hari itu diluar
dugaan Ibu Mulyasertaningrat, anak kesayangannya pulang terlambat.
“Ayo sini sayang, duduk di samping Ibu, kamu ceritakan kenapa kamu terlambat pulang?…”
Ibu Mulyasertaningrat memegang tangan Mulyono dan menariknya untuk duduk bersebelahan di kursi sofa empuk gaya Eropa.
“Jangan diam saja dong sayang, Ibu tidak menggigitmu ko, cerita ayo
sama Ibu…” tangan Ibu Mulyasertaningrat membelai-belai rambut anak
kesayangannya.
“Tapi…”
Mulyono melihat wajah ibunya dengan gelisah. Sementara Ibunya memandang wajah gelisah itu dengan senyum termanisnya.
“Tapi kenapa sayang… Cerita ayo…”
“Janji ya bu…”
“Janji apa,…” jawab Ibu Mulyasertaningrat sambil mengelus-elus rambut Mulyono.
“Janji Ibu tidak marah…”
“Loh… Kenapa Ibu harus marah… Ibu kan sayang Mulyono…”
Mulyono menghela nafas dalam-dalam, tangannya begitu tegang kaku penuh rasa kalut di dalam dadanya.
“Iya… Mulyo cerita ya bu,…” menarik nafas dalam-dalam.
“Jadi tadi sepulang sekolah sepedaku yang ‘seharga lima juta’ yang
Mulyono pakai ‘ban nya bocor’…” dengan wajah menyerngit ketika
mengatakan kata lima juta.
“Iya terus…”
“Ban nya bocor di jalan sepi daerah hutan seberang sungai besar yang
memisahkan dua kampung sejahtera dan kampung kurangajar itu Bu, di sana
tidak ada bengkel sepeda Bu…”
“Bengkel untuk sepeda yang ‘harganya lima juta’ milikmu di situ belum
ada bengkelnya ya, besok Ibu bikin bengkel khusus buat kamu sayang…”
terang ibu Mulyasertaningrat dengan wajah tereyuh yang terus merubah
menjadi wajah bangganya.
“Karena di tengah jalan sepi di tengah hutan itu belum ada bengkel
jadi Mulyono menuntun sepeda yang seharga lima juta itu menyusuri jalan
sepi di tengah hutan itu…”
Wajah ibu Mulyasertaningrat semakin serius mendengar anak semata wayangnya bercerita kesialannya.
“Aduh anakku sayang… Tapi kamu tidak ada luka kan menuntun sepeda di jalan sepi tengah hutan di kawasan kampung kurangajar?…”
“Alhamdulillah Bu, selamat… Sepeda yang ‘harganya lima juta’ juga selamat…”
“Alhamdulillah… Mana sepedamu yang ‘harganya lima juta’ sayang?…”
“Sudah digarasi Bu…”
“Alhamdulillah sepeda ‘seharga lima jutanya’ selamat, biar ibu cek ya sayang!…”
Ibu mulyasertaningrat berdiri dan berjalan menuju garasi rumah yang
luasnya hampir seperdelapan stadion Gelora Bung Karno. Mulyono mengikuti
ibunya menuju garasi tepat dibelakangnya.
“Oh iya, sepeda yang harganya lima juta kamu selamat sayang,… Ibu
jauh-jauh loh beli di New York pas Bapakmu dapat bonus jalan-jalan sama
bapak bupati… Loh ko ban nya sudah tidak bocor sayang?…”
Mulyono melongo mendengar pertanyaan ibunya tersebut.
“Anu bu… Anu… Mending Mulyono cerita sambil ibu dan Mulyono duduk di sofa empuk gaya Eropa di ruang keluarga lagi ya bu…”
“Oh… Iya… Ayo ibu juga seneng duduk di sofa empuk gaya Eropa itu
sambil Facebookan, nonton Video Youtube drama korea… Ayo-ayo sayang ke
sofa empuk gaya Eropa…”
“Iya-iya Bu…”
Mereka berdua berjalan melewati beberapa ruangan besar sebelum sampai
di ruang keluarga yang semi terbuka, karena di samping ruang tersebut
terdapat taman bunga besar untuk memanjakan mata dan mensuplai udara
sejuk ke ruang keluarga itu.
“Ayo cerita lagi sayang, kita kan sudah duduk di sofa empuk bergaya Eropa…”
“Iya bu, jadi begini ceritanya bu…” Mulyono mulai kembali bercerita
kepada ibunya dengan bersemangat setelah melihat wajah ibunya yang
berseri-seri setelah dari garasi rumah.
“Setelah sekitar setengah jam Mulyono menuntun sepeda, Mulyono sudah lelah banget itu bu,…”
“Kasian anak Ibu lelah…” Ibu Mulyono mengelus-elus rambut anaknya.
Menghela nafas, “Iya karena Mulyono kelelahan, jadi Mulyono istirahat
di bawah sebuah pohon besar berdaun lebat dengan akar yang besar juga,
Mulyono duduk di akar besar itu dan bersandar pada batang pohonnya Bu…”
“Hahh… Anak ibu duduk di akar dan bersandar di batang pohon besar
hutan kawasan kampung kurangajar… Berarti sofa empuk gaya Eropa ini
sudah terkotori dengan kotoran dari kampung kurang ajar… Ibu akan
menggantinya…”
“Anu itu bu… Jangan diganti dulu…” potong Mulyono kepada perkataan gelisah ibunya.
“Jadi sebelum Mulyono duduk di akar dan bersandar di batang pohon
besar daerah kampung kurangajar itu, mulyono sudah memberi alas di akar
pohon dengan kain tisu dan Mulyono memakai baju olah raga sebagai
pemisah antara baju sekolah Mulyono dan batang pohon besar daerah
kampung kurangajar…”
“Syukurlah… Jadi kamu tidak terkontaminasi kotoran pohon dari kampung
kurangajar kan sayang… Lah terus baju olah raga dan kain tisunya
mana?…”
“Mulyono buang di jalan bu,… Ga apa-apa kan bu, kan keluarga kita
kaya raya bisa membeli seragam olah raga dan kain tisu banyak…” wajah
Mulyono menyerngit ketika mengatakan kata keluarga kita kaya raya, kata
yang sangat disukai oleh ibu Mulyasertaningrat.
“Iya tidak apa-apa dong sayang, keluarga kita kan kayaraya…”
“Setelah baju olah raga dan kain tisu nya Mulyono buang, Mulyono
meneruskan perjalanan menuntun sepeda yang harganya lima juta itu bu,
berjalan… Berjalan… Menelusiri siang yang teduh di hutan kampung
kurangajar bu, tapi sesekali Mulyono menengok kebelakang, melihat jauh
dimana baju olah raga Mulyono buang… Mulyono melihat anak sebayaku
memungut baju olah raga Mulyono bu,… Ga apa-apa kan di pungut bu?…”
“Iya ga apa-apa lah sayang, warga kampung kurangajar memang pantas memungut barang buangan warga sejahtera sayang…”
“Baguslah bu,… Terus karena Mulyono penasaran, jadi Mulyono
menghampirinya anak tersebut… Anaknya cantik loh bu, hehehe…” nyengir
lebar.
“Loh… Kamu ko malah mendekatinya MUL… Itu tidak boleh sama peraturan
di kampung sejahtera, tidak boleh berinteraksi dengan kampung miskin
seperti kampung kurangajar, mereka itu kotoran,…”
“Kenapa mereka dianggap kotoran bu?…”
“Kamu ko bisa tidak paham sih, ya secara kita kan warga kampung
orang-orang kaya, banyak pengusaha sukses dan pegawai kabupaten tinggal
di kampung kita, kamu tahu tidak bapakmu kan pegawai kabupaten jadi
punya rumah besar di kampung sejahtera kita ini…duitnya juga banyak,
beda dengan mereka… “kampung kurangajar” hehh… satu hal yang membuat
mereka menjadi kampung sampah, karena ada satu orang di kampung itu lima
belas tahun lalu, mencuri baju di jemuran kampung sejahtera, pencuri
itu adalah sampah masyarakat, karena pencuri itu berasal dari kampung
kurangajar maka otomatis semua yang tinggal disana adalah sampah… Sampah
itu kotor sayang”
“Tapi Mulyono sempat ke rumahnya bu, makan siang di rumahnya, dan
bapaknya juga menambal sepeda seharga lima juta itu bu,…” tabrak
kata-kata ibunyaMulyono begitu bersemangat.
“HAAAHHHH…. APA…. MULYONOOOO…. KAMU… GRRR KAMU, IBU MARAH BESAR,… AYO IKUT IBU…”
Ibu Mulyasertaningrat menarik tangan Mulyono menuju kamar mandi.
”Ayo buka bajumu, cepet buka bajumu Mul…”
“Ampun bu, ampun…”
Belum sempat Mulyono membuka baju Ibu Mulyasertaningrat sudah mengguyur tubuh anaknya dengan air dingin. buka bajumu
“Kamu harus dicuci, agar kotoran kampung kurangajar tidak berkembangbiak di rumah kita, ayo disabun sampe keset…”
Ibu Mulyasertaningrat memandikan anaknya yang dianggapnya terkena kotoran kampung kurangajar.
“Sudah lima sabun batangan habis bu, apa belum cukup menghilangkan kotoran kampung kurangajar?…”
“Deterjen mana… DETERJEEENNN….”
“Ibu… Jangan bu, ibu masih sayang Mulyono kan? Jangan bu, TOLONG…. Rupiah sedang anjlok, deterjen di supermarket sedang mahal…”
Ibu Mulyasertaningrat melongo.
“Betul kamu betul… Ya udah sekarang kamu handukan, kita harus cepat membersihkan sisa-sisa kotoran dari kampung kurangajar…”
“Iya bu…”
Ibu anak itu berjalan menuju kamar Ibu Mulyasertaningrat, kamar
dengan lima kaca pengilon besar dengan seabreg kosmetik dan parfum milik
ibu Mulyasertaningrat, sepuluh lemari pakaian yang terbuat dari kayu
jati terbaik, dan satu buah ranjang kasur empuk limited edition
pengrajin kayu dari gurun sahara.
“Dimana ya… Dimana… Aduh Ibu taruh parfum supernya dimana?… Mul
tolong Ibu cari parfum super keluaran pabrik parfum legendaris dari
Perancis, mungkin parfum itu bisa menutupi aroma kotoran dari kampung
kurangajar, jangan sampai TETANGGA KITA MENCIUM BAU MEREKA DARI KAMU…
Tak terbayangkan…”
“Kalau parfum itu sangat mahal pasti ibu taruh di berangkas ruang bawah tanah!…”
“Betul kamu betul…” dengan nafas terengah-engah dalam karena jantung
ibu Mulyasertaningrat sedang meningkat aktivitasnya disebabkan pengaruh
kegalauannya membayangkan jika tetangga mereka mengetahui anaknya
berinteraksi dengan warga kampung kurangajar yang dianggap kotor karena
sejarah kelam kampung kurangajar memiliki seorang maling pakaian.
Mereka berdua berlari menuju ruang bawah tanah, ruang itu sangat
rahasia dan hanya diketahui oleh anggota keluarga saja sedang para
pembantu tidak mengetahui perihal ruang rahasia itu. Untuk bisa masuk
ruang itu ibu anak itu harus memasukkan kode rahasia yang tombolnya
terdapat di balik sebuah buku di salah satu rak ruang baca buku
keluarga, ruang baca itu memuat 39.578 eksemplar buku dan hanya ada dua
buah buku yang berbahasa Indonesia, yaitu kamus bahasa Indonesia Inggris
dan kamus bahasa Inggris Indonesia.
“Oke sekarang kita harus cari buku sejarah kampung sejahtera, dibalik
buku itu ada tombol untuk memasukkan sandi rahasia pintu masuk ruang
bawah tanah…”
“Ibu yakin kalau parfum super keluaran pabrik legendaris dari Perancis itu ada di brangkas itu?…”
“Iya…” singkat.
“Apa ibu lupa lokasi buku itu di rak mana?…”
“Iya, ibu lupa…” singkat.
“Hah… Terus gimana…”
“Ya kita cari sayang…”
Mungkin karena suasana hati ibu Mulyasertaningrat sudah lumayan tenang, anaknya kembali di panggil dengan kata sayang.
“Mulyono juga sayang Ibu…” mereka saling berpelukan.
~J~
Setelah satu jam ibu anak itu mencari buku sejarah kampung sejahtera,
akhirnya mereka menemukannya. Dengan perasaan yang sangat gembira
mereka menarik buku sejarah kampung sejahtera secara bersamaan.
“Setelah kita mendapatkan parfum super itu sayang, kamu harus membaca
buku sejarah kampung sejahtera, agar sayang bisa memahami betapa besar
masalah yang sedang kita hadapi…”
“Mulyono sayang ibu…”
“Ibu juga…” mereka saling berpelukan.
~J~
“Oke sekarang kita harus cepat menuju ruang bawah tanah….” (Tut… Tut…
Tut…) jari-jari ibu Mulyasertaningrat memencet tombol rahasia.
“Apa kode rahasianya bu?…”
“Dua puluh tiga angka enol!!!…”
“Oh…”
“Grrrr,…. (Aduh sudah berapa angka enol yang aku masukkan), sayang
jangan ajak Ibu ngobrol dulu ya, ibu lagi konsentrasi masukin kode
rahasia…”
“Kan cuma angka enol Bu…” ♩♪♫♬Silahkan coba lagi, jeda per angka kode paling lama adalah lima detik… lalalalala♩♪♫♬ (Suara nada notifikasi dari alat tombol kode rahasia). ♩♪♫♬Silahkan tunggu setengah jam untuk memasukkan kode rahasia kembali… lalalalala♩♪♫♬
~J~
(satu jam kemudian).
Ibu anak itu berada di dalam ruang bawah tanah, mereka berdiri di
depan sebuah berangkas baja berukuran besar dengan diameter dua meter.
Berangkas baja tersebut memiliki sistem keamanan yang sangat kuat,
dilengkapi dengan layar touchscreen sepuluh inci, berfungsi untuk
memasukkan kode rahasia berangkas baja itu.
“Ibu biarkan Mulyono yang memasukkan kode rahasia, aku akan membanggakan ibu…”
“Berjuanglah sayang, sekarang kamu pencet tombol bertuliskan start…”
Setelah Mulyono memencet tombol start, menyalalah layar berukuran sepuluh inci tersebut.
Layar tersebut memunculkan sebuah perintah.
Silahkan tekan tombol “Open the Door”
“Oke… Aku akan menekannya…”
“Berjuang sayang”
Setelah tombol “Open the Door” ditekan oleh Mulyono kembali muncul
langkah selanjutnya yang harus dilalui di layar touch screen sepuluh
inci tersebut,
“Hah… Ini kumpulan kotak apa Bu?….” Mulyono yang kebingungan memandang ke Ibunya.
“Itu adalah kotak permainan SUDOKU, kamu harus menyelesaikannya untuk membuka pintu…”
“Oke bu, ternyata tidak terlalu susah… haha”
~J~
(setengah jam kemudian)
“Oke… Tinggal angka terakhir, pasti game SUDOKU ini selesai…”
(TUT) tombol angka 6 dimasukkan di kotak sudoku di layar touch screen sepuluh inci berangkas baja. Selamat anda telah menyelesaikan permainan ini. Silahkan lanjutkan tahap berikutnya!. semoga anda beruntung.
layar monitor touch screen ukuran sepuluh inci tersebut kembali
memberikan intruksi. Tapi kali ini intruksi yang diberikan benar-benar
membuat bingung Mulyono.
“Maksudnya apa ini bu…”
“Ibu lupa sayang, kalau setelah sayang selesai menyelesaikan game
sudoku, sayang harus memasukan angka-angka yang pertama sampai terakhir
muncul di kotak sudoku tadi,…”
“Kenapa ibu baru memberi tahu Mulyono sekarang, Mulyono tidak hafal
angka berapa saja yang tadi dimunculkan…” mata Mulyono berkaca-kaca. Batas waktu anda memasukkan kode rahasia tinggal. 10 9 8 7
Sistem mulai menghitung mundur waktu penginputan kode sudoku pembuka berangkas baja. 3 2 1 Waktu anda habis. Silahkan tunggu lima belas menit untuk kembali memulai permainan. Selamat berjuang.
“Ibu apa aku harus memulai kembali game sudoku itu untuk membuka berangkas baja ini…”
“sabar ya sayang, kita tunggu lima belas menit lagi…”Ibu
Mulyasertaningrat mulai berkaca-kaca melihat perjuangan anak semata
wayangnya.
(satu jam kemudian)
“Akhirnya terbuka juga, kenapa permainan yang ini lebih susah dari
yang pertama,… Ibu ayo kita ambil parfum super keluaran pabrik
legendaris Perancis untuk menghilangkan aroma dari kampung kurangajar…”
Ibu Mulyasertaningrat memasuki berangkas yang telah terbuka, cukup lama dia mencari dimana keberadaan parfum super itu.
“Nah… Ini dia,… Sini sayang sekarang ibu semprotkan parfum super keluaran pabrik legendaris Perancis ini…”
(Srott… Srottt… Sroooottttt….)
“Cukup bu, cukup… Uhuk-uhuk… Jangan terlalu banyak, aku keplekiken…”
“Hmmm…. Hmmmm…. Sekarang aroma kotoran dari kampung kurangajar sudah hilang, bagaimana sayang wangi kan?…”
“Hmmmm… Hmmmm… Benar-benar wangi bu…”
“Mulyono sayang Ibu…”
“Ibu juga sayang Mulyono…” mereka saling berpelukan.
Ketika ibu anak itu sedang dalam suasana romansa keluarga bahagia
sentosa, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara telepon internal rumah.
Telepon internal rumah adalah telepon yang hanya menghubungkan antara
pembantu-pembantu yang ada di dalam rumah keluarga tersebut dengan tuan
rumahnya. Telepon itu terpasang di semua ruangan di rumah keluarga itu,
bahkan di taman pun di pasang telepon tersebut. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Ceklek…
“Dengan Bibi siapa?…”
“Dengan Bibi Karsiem, kepala divisi pembantu bagian ruang tamu…”
“Oh… Iya ada apa bi?…”
“Bu… Ada tamu, katanya dari kepolisian… Kelihatannya mendesak bu,…”
“Oke Bi, persilahkan masuk Pak Polisinya…”
“Pak Polisinya tadi langsung masuk bu, bahkan beberapa sudah menggeledah kamar Bapak…”
“HAPAAAAA….” Tuttt…….
Ibu anak itu berlari meninggalkan ruang bawah tanah menuju ruang tamu.
Di ruang tamu polisi terlihat berkeliaran menggeledah rumah ibu Mulyasertaningrat secara hati-hati.
“Maaf… Apakah anda Ibu Mulyasertaningrat? Istri dari Bapak Utomo Budi Badudi?…”
“Iya pak,… Maaf kenapa bapak polisi langsung menggeledah rumah saya
tanpa seijin saya, dan ada masalah apa dengan keluarga saya?…”
“Jadi begini bu, kami dari kepolisian dan juga Kelompok Pemberangus
Korupsi (KPK) telah menetapkan suami Ibu sebagai “pencuri” uang
Negara….”
“Untuk mengamankan barang bukti kami akan mengeledah rumah…” belum
sampai selesai pak politsi menjelaskan tujuan penggeledahan ibu
Mulyasertaningrat pingsan.
~J~
(Empat jam kemudian di rumah sakit)
“Aku dimana… Aku di…. Kenapa aku di rumah sakit…”
Mulyono melihat wajah ibunya yang pucat setelah pingsan berkepanjangan.
perlahan-lahan air mata Mulyono pun jatuh berurai memandang ibunya.
“Mulyono kenapa kamu menangis…”
”Ibu… Kenapa kampung kurangajar dianggap semuanya kotor?…”
“Karena dulu ada maling baju disana sayang…”
“Apa kampung kita akan di anggap kotoran juga bu?…”
“Kampung kita?…” Ibu Mulyasertaningrat berkaca-kaca.
“Hanya karena maling baju selama lima belas tahun mereka dianggap kotoran oleh kita, lalu kita akan dianggap apa?”
“MALING UANG NEGARA”
~J~
~J~
Buka bajumu, baju yang memalsukanmu.
buka bajumu, kulitmu lebih bersih untuk rakyatmu.
Buka bajumu, jangan gunakan baju hanya untuk menutupi kudis-kudis yang gatal.
Buka bajumu, kamu tau baju yang seharusnya kau kenakan. Buka Bajumu, buka bajumu
Bertemunya Pelepah Pohon Pisang dan Serat Daun Nanas
Disuatu hutan di pulau Jawa lima miliar
tahun yang lalu, hiduplah sekelompok orang, mereka menamakan kelompoknya
suku Brok. Kepala suku Brok pada saat itu bernama Kruk. Kepala suku
Kruk sedang sangat bingung, anak satu-satunya adalah perempuan. Jabatan
kepala suku tidak bisa di turunkan kepada seorang perempuan. Umurnya
sudah sangat tua, sehingga dia harus berfikir keras agar kelak pemimpin
sukunya adalah keturunannya.
Hujan Deras di Malam Dingin -Tiga anak perempuan sedang duduk
bergurau menunggu satu loyang Pitza pesanannya. Malam itu Rina sedang
mentlaktir dua temannya Indri dan Susi karena nilai pelajaran olah raga
Rina naik dari biasanya enam sekarang menjadi delapan. Malam itu demi
merayakan kenaikan nilai tersebut, Rina sudah mentlaktir dua sahabatnya
dengan nonton bioskop, shoping di Mall-mall besar jantung kota dan
melepas lelah di ruang karaoke sampai akhirnya mereka merasa lapar.
Rumput-rumput mulai mengering terkena
sinar matahari pagi, kumbang-kumbang sudah hampir tidak menghinggapi
bunga-bunga liar di parit-parit sawah. Bau-bau asap mulai merayap masuk
kedalam hidung yang kembang kempis dalam nafas. Aliran darah meninggi
mengikuti detak jantung yang sedang menjelma menjadi pesaing tempo suara
bedug malam takbiran.
Suara lemah menggema, suara pertanyaan dari dalam jiwaku sendiri. “Apa…
Jika sudah lelah jiwa berkata “Apa…” dia baru mulai membawaku kedalam ruang hampa. Ruang hampa dambaanku sejak mata merah ini mulai terpejam. Namun, tak pernah mudah aku meminta jiwa sesegera mungkin membawaku kedalam ruang itu, dia selalu bermain kata dahulu, “Apa…, terlebih marah aku jika jiwa lalai menyembunyikan teman “Apa…, “Kenapa…,” dia datang tanpa satu pun pihak menyetujui. Tak mengapa “Apa… selalu dibawa jiwa dalam permainan katanya, masih bisa mata hati dan rasa nyata berusaha menjawab maknanya, menguak dibalik “Apa…, tapi ketika jiwa mulai lupa harus menyembunyikan “Kenapa…, maka ketika jiwa sudah ingin membawaku ke dalam ruang hampa yang kurindu, aku, ku yang tak mampu, tak mampu ku menjawab “Kenapa… lagi-lagi aku harus melawannya, mengusirnya, meninggalkanku, “Kenapa…
Tak pernah mudah dia pergi, “Kenapa… dia lebih merisaukan dari pada “Apa…
Lagi-lagi, jiwa memaksaku pergi menuju keruang hampa, tanpa harus aku bisa mengusir “Kenapa… Aku menangis, kenapa aku menangis.
“Apa… dia sudah diam dipojok kekalahan setelah ku patahkan semua pertanyaannya. Diam lara, “Apa… merenung akan kekalahannya kepada “Kenapa…” “Apa… berteriak lirih, mengutuk “Kenapa…” meninggalkan dunia jiwa.
Jiwa tak pernah sadar, tak pernah sadar, tak pernah sadar dia membawa “Apa… dan hanya melukainya. Jiwa terlalu menganggap sahabat “Apa…” dan “kenapa…,” hingga jika “Kenapa…” datang lagi di ambang jiwaku, jiwa hanya bisa berjabat tangan dan menyuguhkan senyum. Padahal, padahal “Apa… memendam dendam kepada “Kenapa…” kenapa “Kenapa…” selalu yang bisa membuatku tersiksa dan sering tidak bisa menjawab “Kenapa…”
Dengan wajah yang penuh dengan keringat, aku memasak nasi goreng yang baru saja dipesan oleh seorang siswa. Kelihatannya di tengah mengikuti studi wisata yang diselenggarakan sekolahnya. Suatu hal yang lumrah di sini. Pantai selalu menjadi tujuan wisata baik bagi orang dewasa maupun anak sekolahan.
Sudah lebih dari tiga bulan aku berada di pantai ini. Begitu ‘kejadian itu’ terjadi, dengan perasaan kalut dan kebingungan melarikan diri dari rumah. Meninggalkan jenazah Ayahku yang masih terbaring di atas lantai. Setelah mengambil barang yang bisa kuambil di rumah, aku langsung keluar rumah dan menaiki angkutan umum pertama yang kutemui. Aku tak tahu harus pergi ke mana. Aku hanya ingin pergi jauh-jauh dari rumahku. Dari bekas kejahatanku. Entah bagaimana kejadiannya, aku sampai di pantai ini pada malam hari. Karena kelelahan dan rasa takut yang membebani kepalaku, aku pingsan di di pesisir pantai, hanya beberapa meter dari bibir pantai.. Untunglah ada seorang lelaki cukup tua yang menemukanku tak berdaya di sana. Singkat cerita dia membawaku ke rumahnya dan merawatku. Kepadanya aku mengaku bahwa aku baru saja kehilangan kedua orang tuaku (aku tak menceritakan kejadian detailnya) dan juga tidak memiliki tempat tinggal. Dan beliau langsung percaya saja padaku. Lelaki tua yang kemudian kupanggil Pak Sis ini tanpa bertanya panjang lebar mengizinkanku tinggal bersamanya. Pak Sis berkata bahwa dia hanya tinggal sendirian dan tengah membutuhkan tenaga bantuan di warung makannya yang ada di pantai ini.
Aku pun kemudian tinggal di sini. Tanpa kusadari sudah tiga bulan aku berada di tempat ini. Di tempat pelarianku ini. Sembari terus bekerja, aku berusaha mengubur dalam-dalam tragedi masa lalu .Aku selalu menghindari koran maupun acara berita kriminal yang ada di televisi. Sekalipun aku ragu apakah berita kematian Ayahku akan masuk di televisi, aku selalu menghindari acara berita.
“Sudah selesai?” suara seorang perempuan terdengar dari balik punggungku.
“Ya, ini sudah siap,” jawabku. Sambil mematikan kompor gas. Begitu nasi goreng yang kubuat telah selesai, dengan cekatan perempuan itu membawanya ke pemesan.
Perempuan itu bernama Laras. Dia juga bekerja kepada Pak Sis di warung makan ini, bahkan sejak aku belum ke sini. Sikapnya yang ceria dan supel membuatku bisa akrab dengannya. Dia cantik dan feminim, tetapi kadang-kadang dia bisa terlihat agak tomboy. Meski dia sangat bertolak belakang dengan Ibuku, entah mengapa terkadang aku merasa teringat dengan Ibuku saat aku memandang wajah Laras.
Masih teringat olehku godaan dari Pak Sis beberapa waktu yang lalu.
“Bagaimana pendapatmu tentang Laras?” tanya Pak Sis tiba-tiba pada suatu malam.
“Maksud Pak Sis?” aku balik bertanya.
“Cuma mau tahu saja, apa pendapatmu tentang dia.”
“Kurasa dia gadis yang baik, meski terkadang sedikit keras kepala,” jawabku sekenanya.
“Menurutmu dia cantik tidak?” buru Pak Sis.
“Lumayan cantik.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak menjalin hubungan dengan dia?”
Aku yang saat itu tengah makan malam hampir tersedak mendengar ucapan Pak Sis barusan.
“Kami tidak punya hubungan seperti itu, Pak,” bantahku cepat setelah menenggak segelas air.
“Punya juga tidak apa-apa,” balas Pak Sis nyengir jahil sambil beranjak ke kamarnya meninggalkanku sendirian. Terkadang, aku merasa Pak Sis bersikap tak sesuai dengan umurnya.
Tak diragukan lagi, sebenarnya diam-diam aku memang jatuh hati kepada Laras. Wajahnya yang manis dengan senyumnya yang khas dan juga sikapnya yang baik tentu saja menarik hatiku sebagai seorang laki-laki. Sikapnya yang terkadang sedikit tomboi dan tak mau mengalah malah membuatku penasaran terhadapnya.
Apakah Pak Sis dapat membaca perasaanku itu? Meski begitu aku sadar bahwa aku sama sekali tak pantas untuk bersanding bersama perempuan sebaik Laras. Aku hanyalah seorang buronan yang tengah melarikan diri. Seorang pembunuh yang dengan tega telah membunuh ayah sendiri dan dengan begitu pengecutnya melarikan diri dari itu semua.
Setiap aku bertemu dengan polisi atau mendengar suara sirine mobil polisi yang melintas, jantungku selalu berdebar keras seolah mau lepas dari tempatnya dan punggungku lansung basah oleh keringat. Bahkan sekalipun aku tahu bahwa polisi tersebut tak berniat mencariku, aku tetap tak bisa meredakan jantungku yang berdetak begitu kencang.
Aku juga tidak pernah lagi bisa tertidur dengan nyenyak. Tiap aku terlelap, sosok ayahku yang berlumuran darah selalu muncul dalam mimpiku. Aku sering terbangun tiba-tiba dengan badan penuh keringat di tengah malam dan tak bisa lagi mlanjutkan tidurku. Kalau itu terjadi, dengan diam-diam aku pergi keluar meninggalkan rumah Pak Sis menuju tepi pantai. Di sana aku duduk sendirian di atas pasir memandangi lautan yang berombak. Hanya begitu untuk menghabiskan malam. Begitu pagi menjelang, aku dengan diam-diam pula kembali ke dalam rumah Pak Sis sebelum beliau bangun.
Aku selalu bersyukur bahwa saat aku kebingungan tanpa arah dulu, aku bisa sampai ke tempat ini dan bertemu dengan Pak Sis. Beliau mengizinkan aku tinggal di rumahnya sekalipun aku hanyalah orang asing baginya. Karena itulah aku selalu bekerja dengan giat dan berusaha keras untuk tidak mengecewakan penyelamat hidupku tersebut. Kepada warga sekitar, Pak Sis memperkenalkanku sebagai ‘anak dari saudara jauh yang telah meninggal’. Agar orang-orang tidak berpikir macam-macam, begitu kata Pak Sis padaku.
Dulu Pak Sis sebenarnya tinggal bersama seorang istri dan seorang anak lelaki yang seumuran denganku. Sayangnya, lima tahun silam keduanya meninggal akibat peristiwa tabrak lari. Sampai saat ini pelakunya belum tertangkap. Sepeninggal keduanya Pak Sis tinggal sendirian di rumahnya dengan tetap menjalankan warung makannya yang sederhana bersama Laras. Hingga tiba-tiba aku muncul di pantai ini.
Mungkin karena aku juga sebatang kara yang menyebabkan Pak Sis membolehkan aku tinggal bersama beliau. Di tempat ini aku menjalani hari-hari yang damai meski masih dihantui kenangan atas kejahatan di masa lalu. Entah sampai kapan situasi ini akan bertahan.
Hingga suatu hari, kudengar kabar yang tak ada hubungannya denganku, tetapi cukup untuk membuatku terkejut. Laras dilamar oleh seorang lelaki yang dulu merupakan teman SMP Laras. Sekalipun aku tak mengharapkan hubungan yang lebih dari sekadar sahabat dengannya, harus kuakui dalam hati aku merasa lega ketika mendengar bahwa Laras menolak lamaran tersebut.
Aku pun menanyakan tentang hal itu kepada orangnya langsung.
“Laras, kenapa kamu menolak saat kamu dilamar kemarin?” tanyaku saat warung tengah sepi pelanggan.
Laras membalik badannya dan menatapku sambil memperlihatkan senyum khasnya, ”Kamu benar-benar ingin tahu?”
Aku agak terpesona melihat wajah Laras yang terseyum kepadaku.
“Ya… cuma ingin tanya saja.”
“Soalnya bukan dia orang kusukai,” jawab Laras kalem. Begitu sederhana, tetapi memancingku untuk bertanya: lantas siapa orang yang kamu sukai? Tetapi tak kutanyakan pertanyaan tersebut.
“Orang tuamu tak keberatan? Usiamu sudah cukup untuk menikah, lho.”
“Ayah menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Kalau Ibu sih kelihatan sedikit kecewa. Tapi tak apa-apa.”
Aku mengerti. Aku pernah mendengar bahwa dulu ayah Laras pernah memaksa kakak perempuan Laras untuk menikahi anak lelaki dari teman ayah Laras. Rumah tangga mereka berdua berantakan dan berakhir dengan kematian kakak Laras yang bunuh diri menggunakan racun serangga. Wajar saja bila kini ayah Laras menyerahkan sepenuhnya keputusan soal pernikahan kepada Laras meski aku yakin Laras tak akan pernah melakukan bunuh diri.
Obrolan kami kemudian berlanjut ke masalah-masalah biasa. Setelah percakapan itu, sempat terpikir olehku mengenai masa depanku yang tak jelas arahnya. Malamnya, untuk kesekian kalinya aku mengalami mimpi yang sama seperti sebelum-sebelumya. Aku melihat sosok Ayahku yang berlumuran darah dengan perlahan-lahan berjalan mendekatiku. Aku terbangun dengan badan penuh dengan keringat dan tak bisa melanjutkan tidurku meski aku sudah berusaha. Kemudian aku pergi ke tepi pantai, seperti malam-malam sebelumnya.
Di sana aku bertanya-tanya tentang bagaimana masa depanku kelak. Apakah aku akan terus menetap di pantai ini sambil bersembunyi dari kesalahanku di masa lalu? Ataukah pada akhirnya aku harus bertanggung jawab atas kematian Ayahku? Aku terus memikirkan hal itu hngga tidak menyadari bahwa ada di belakangku seseorang yang tengah berjalan mendekatiku.
“Rendi?”
Aku terkejut mendengar seseorang memanggil namaku. Begitu berbalik aku mendapati sesosok perempuan memakai piyama coklat tebal dengan rambut hitam panjang melambai oleh angin.
Laras.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Aku yang masih terkejut bertanya kepada Laras.
“Itu yang tadi ingin kutanyakan padamu,” balas Laras. Kemudian dia ikut duduk di atas pasir, beberapa meter dari tempat dudukku.
“Aku tidak bisa tidur,” kataku kemudian. “Aku biasa ke sini bila sulit tidur.”
“Kamu tidak takut hantu?” tanya Laras
“Tentu saja tidak,” jawabku. “Bukannya kamu yang lebih aneh, seorang gadis sendirian pergi ke pantai tengah alam begini?”
Laras tertawa perlahan. “Ya, kamu benar juga.”
Kami berdua terdiam. Sementara di depan kami ombak terus berdebaran tanpa henti.
“Aku juga sedang tidak bisa tidur,” tiba-tiba Laras bersuara.
“Kenapa?” tanyaku.
Laras menatap jauh ke arah lautan. “Aku tengah gelisah memikirkan sesuatu. Entah kenapa aku merasa dengan pergi ke sini aku akan menemukan sesuatu. Dan ternyata kamu sedang ada di sini. Mungkin … ini yang disebut dengan takdir.”
Aku ke sini hampir tiap malam, kataku dalam hati. Jadi bila suatu waktu Laras pergi ke tepi pantai pada tengah malam, dia pasti akan bertemu denganku. Meski begitu, aku tidak mengatakan hal itu kepada Laras.
“Memangnya kamu sedang gelisah memikirkan apa?” tanyaku kemudian. “Jangan-jangan kamu menyesali keputusanmu menolak lamaran kemarin.”
“Sama sekali tidak,” jawab Laras mantap. “Meski masih ada hubungannya dengan masalah lamaran.”
“Kalau bukan, lalu apa?”
Laras menghembuskan napas berat. “Aku tengah bertanya-tanya, apakah kira-kira kelak aku bisa menikah dengan pria yang benar-benar kusukai.”
“Kenapa tidak?” balasku. “Aku yakin kamu bisa bersama dengan laki-laki yang benar-benar kau cintai. Dengan sedikit usaha, tentunya,” Dan aku sangat iri dengan laki-laki itu, bisikku dalam hati.
“Tidakkah memalukan jika pihak perempuan yang mengungkapkan perasaanya terlebih dahulu?” tanya Laras lagi.
“Kurasa tidak masalah,” jawabku. “Berarti… saat ini ada seseorang yang tengah kau sukai ‘kan?”
“Kalau boleh tahu, siapa orang itu?” tanyaku sambil berusaha tersenyum sekalipun rasanya aku patah hati.
Laras memilin-milin ujung rambutnya yang panjang. Kemudian dengan perlahan dia berkata, “Orang itu adalah… kamu.”
Sekalipun suara Laras begitu pelan, rasanya aku seperti tersambar petir mendengar jawaban dari Laras yang begitu terang-terangan tersebut. Aku tidak menyangka, ternyata Laras juga memiliki perasaan yang sama denganku. Atau jangan-jangan… aku saja yang tidak peka selama ini.
Meski aku merasa sangat senang dengan pernyataan cinta Laras barusan, aku sadar bahwa aku tidak layak menerima cinta Laras. Aku hanyalah seorang buronan yang selalu dihantui mimpi buruk. Laras berhak mendapatkan lelaki lain yang lebih baik daripada aku. Sekalipun terasa berat dan menyakitkan, aku harus menolak perasaan cinta Laras.
“Aku juga mencintaimu, Laras,” tiba-tiba telingaku mendengar ada seseorang yang mengucapkan kalimat itu. Tetapi tidak kudapati orang lain di tempat itu selain aku dan Laras. Dan anehnya, suara orang tersebut terdengar seperti suaraku.Tunggu... ataukah jangan-jangan memang aku yang mengucapkannya?
Dengan ragu-ragu aku mencoba melihat ke arah Laras. Laras yang terlihat terkejut mendengar ucapanku barusan. Wajahnya mendadak memerah. Dia tidak tahu, bahwa aku sendiri lebih terkejut karena telah mengucapkan hal tadi. Lancang benar mulutku ini!
Kami berdua langsung saling mengalihkan pandangan. Aku tidak tahu lagi bagaimana wajahku sekarang. Suasana canggung langsung muncul di antara kami.
“Aku… duluan,” ucap tiba-tiba Laras memecah kebekuan di antara kami berdua. Dia berdiri dan langsung berjalan pulang ke rumahnya. Meninggalkanku sendirian di tempat ini yang masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
--o0o--
Setelah Laras sudah tak terlihat, aku masih memikirkan kejadian menakjubkan yang baru kualami tadi. Itu adalah pertama kalinya ada seorang gadis yang menyatakan cinta kepadaku. Ditambah lagi, gadis itu adalah gadis yang memang kucintai. Sebagai seorang pemuda yang miskin pengalaman cinta, tentunya itu adalah sebuah momen yang tak terlupakan.
Tetapi sejenak kemudian aku malah kebingungan Apa yang akan terjadi antara aku dan Laras? Dia telah mengungkapkan perasaanku dan tanpa sengaja aku juga melakukan hal yang sama kepadanya. Apakah dengan ini kami akan menjadi sepasang kekasih?
Aku menggeleng pelan. Tidak. Bagaimana pun, Laras terlalu baik untukku. Sempat terlintas dalam benakku gagasan di mana aku bisa bersama-sama Laras dan tetap menyembunyikan diriku yang sebenarnya seorang buronan, penjahat, pembunuh. Tetapi aku sadar bahwa aku takkan melakukan hal seperti itu.
Apakah aku akan tetap bersama-sama dengan Laras sambil menyembunyikan kenyataan bahwa diriku adalah seorang penjahat, buronan, pembunuh?
alam perjalanan ke rumah Pak Sis yang singkat tersebut, entah bagaimana tiba-tiba aku merasa tahu jawabannya. Setelah berbulan-bulan lamanya aku dilanda kebingungan dan ketidakpastian, untuk pertama kalinya aku merasa tahu apa yang harus kulakukan.
Sebagai orang normal yang terkadang menonton televisi atau membaca buku-buku cerita, sering kutemui cerita tentang cinta sejati, yang tak lekang dimakan waktu, dan berbagai hal-hal romantis lainnya. Aku mengetahui bahwa itu hanyalah imajinasi manusia belaka. Tetapi di sisi lain, hal itu mengundang pertanyaan yang menggelitik di dalam benakku. Bisakah sebuah cinta dapat bertahan seperti saat untuk pertama kalinya perasaan cinta itu tumbuh? Bisakah cinta tetap ada setelah cinta itu terpisah begitu lama? Dan sekalipun memang ada... bisakah aku mengalami cinta yang semacam itu? Sebagai seorang lelaki yang realistis, aku jelas meragukan itu semua. Kini, lupakan perihal cinta-cintaan itu. Sekarang aku tengah duduk di atas pasir pantai sendirian, menatap lautan gelap yang berombak tak mau diam. Terlihat mencekam, tetapi entah mengapa mendatangkan perasaan tak asing yang terasa nyaman. Angin malam di pantai ini menerpa kulitku. Membuatku mengenang kembali berbagai hal-hal yang dulu kualami di pantai ini tujuh tahun yang lalu.
Sesuai janjiku dulu, aku datang langsung datang ke tempat ini begitu aku diperbolehkan menghirup udara bebas. Padahal seharusnya aku mengunjungi makam Ibu dulu. Mungkin juga sekalian makam Ayahku. Tetapi aku sudah berjanji. Dan janji dibuat memang untuk ditepati.
Tadi siang, aku langsung menaiki angkutan menuju tempat ini begitu aku mendapatkan kesempatan. Seharusnya aku bisa sampai di pantai ini sore hari. Sayangnya entah bagaimana ceritanya angkutan yang kutumpangi tiba-tiba mogok. Mesinnya mati. Kupikir aku bisa menunggu sampai angkutan itu bisa jalan kembali. Tetapi ternyata tidak. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku menaiki angkutan lain. Sayangnya angkutan ini tidak langsung mengarah ke tempat tujuanku, memaksaku berganti angkutan lain di tengah perjalanan. Akhirnya aku baru sampai di tempat tujuanku ini pada malam hari.
Apakah nasib tengah bercanda kepadaku? Dulu ketika untuk pertama kalinya juga saat malam hari. Hanya saja kini kondisiku jauh berbeda dibandingkan dengan dulu. Dulu aku datang ke tempat ini dalam keadaan kacau dan pingsan begitu aku sampai. Tetapi kini lain. Aku datang ke tempat ini dalam keadaan bersih. Aku datang ke sini bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk pulang. Meski begitu, waktu mulai memasuki tengah malam. Itu bukan waktu yang tepat untuk mengetuk rumah seseorang. Karena itulah kuputuskan untuk menunggu pagi datang dengan sekedar duduk di pesisir pantai ini, seperti yang dulu biasa kulakukan.
Sudah begitu lama aku meninggalkan tempat ini, tetapi semuanya terasa seperti baru terjadi kemarin. Aku ingin tahu, seberapa banyak tempat ini berubah semenjak kutinggalkan dulu. Apakah para penduduknya masih seramah dulu? Bagaimana keadaan Pak Sis sekarang? Bagaimana pula dengan usaha warung miliknya? Dan yang paling ingin kuketahui adalah bagaimana kabar Laras sekarang?
Aku tersenyum sendiri nama terakhir itu. Sudah bertahun-tahun aku meninggalkannya, wajar bila aku ingin tahu bagaimana kabar dia sekarang. Tentunya kini dia sudah menikah dengan seorang pria yang dapat membahagiakan dirinya. Seseorang yang lebih baik daripada aku. Bahkan mungkin kini dia telah memiliki anak yang menggemaskan, sebagaimana ibunya. Aku yakin, Laras akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik dan setia. Meski begitu, Laras tidak perlu menjadi perempuan seperti Ibuku. Setia kepada orang salah. Sehingga Laras tak perlu merasakan penderitaan yang dulu pernah Ibu rasakan.
Ibuku adalah seorang perempuan yang lembut dan penyabar. Tak pernah kulihat satu kali pun Ibu marah kepada seseorang. Sebaliknya, Ayahku adalah seorang yang tegas. Bila aku bandel, Ayah tanpa ampun akan memukuli pantatku keras-keras menggunakan sapu lidi. Kalau sudah begitu, Ibu akan segera datang untuk membelaku.
Ayah bekerja sebagai supir truk. Bila dia sedang membawa muatan ke tempat yang jauh, ke provinsi lain misalnya, Ayah bisa pergi selama beberapa hari sampai lebih dari seminggu. Aku heran kenapa Ibu bisa bersabar meski selalu ditinggal-tinggal oleh Ayah. Apakah Ibu tidak kesepian? Kalau aku, selama ada Ibu di rumah semuanya tidak menjadi masalah. Pernah kutanyakan hal itu kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar pertanyaanku kemudian menjawab, ”Kamu tak akan pernah mengerti ketegaran seorang perempuan yang tengah menanti, Rendi.”
Keluarga kami memang bukanlah keluarga yang kaya. Meski begitu, keluarga kami tidak pernah kekurangan dan tidak pernah mengalami masalah yang berat. Hingga suatu waktu Ayah jarang pulang ke rumah.
Sejak dulu, karena profesinya, Ayah memang sering meninggalkan rumah untuk waktu yang lama. Tetapi saat aku sudah beranjak kelas 3 SMA, Ayah jadi semakin sering tidak ada di rumah. Bila dia pergi, bisa sampai lebih dari dua minggu. Ayah hanya pulang untuk beberapa hari untuk kemudian pergi lagi.
Aku sempat curiga dengan perubahan ini. Saat kutanya, Ayah hanya menjawab,”Ini urusan pekerjaan, Ndi. Ayah semakin sibuk.” Entah kenapa aku sulit untuk percaya. Hingga kudengar kabar burung bahwa Ayah sebenarnya telah menikah lagi dengan seorang perempuan di daerah lain.
Aku terkejut setengah mati saat mendengar kabar itu. Saat itu Ayah sedang tidak ada di rumah. Ibu menyuruhku untuk tidak langsung percaya. Tetapi aku tahu bahwa Ibu sebenarnya juga gelisah memikirkan hal itu. Begitu Ayah pulang, ingin langsung kutanyakan kebenaran kabar tersebut. Tetapi Ibu melarangku. Beliau berkata bahwa beliau-lah yang akan memastikan.
Tetapi Ibu tidak kunjung bertanya. Saat kudesak, Ibu hanya menjawab,”Ibu belum menemukan saat yang tepat, Rendi,” Hingga suatu hari Ibu tiba-tiba jatuh sakit. Aku tidak tahu apa penyakit beliau, tetapi aku merasa bahwa Ibu menderita penyakit yang parah. Obat dari puskemas tak banyak membantu. Ingin kubawa Ibu ke rumah sakit, tetapi baik Ibu maupun aku tidak memiliki uang yang cukup. Saat aku ingin mencari keberadaan Ayah yang tak kunjung pulang, entah kenapa Ibu malah melarangku.
“Pada saatnya nanti, Ayah akan pulang , Rendi…” ucap Ibu lemah.
“Tapi kenapa, Bu…?”
“Rendi, kamu tak akan pernah mengerti ketegaran seorang perempuan yang tengah menanti,” ucap Ibuku lagi.
Dan kenyataannya aku memang tidak mengerti. Aku tidak mengerti mengapa Ibu bersikeras melarangku mencari Ayah. Apakah Ibu takut aku akan menemukan sesuatu? Aku juga tidak mengerti mengapa aku tidak bisa menghubungi ponsel Ayah untuk member kabar bahwa Ibu sakit. Tetapi aku mengerti satu hal. Adalah kesalahan Ayah ketika pada akhirnya Ibu meninggal. Dan Ayah tidak kunjung pulang.
Beberapa hari setelah pemakaman Ibu, Ayah tiba-tiba pulang. Dia pulang seolah-olah baru beberapa hari dia meninggalkan rumah. Padahal Ayah sudah pergi selama hampir tiga bulan. Aku tidak bercerita apa pun hingga Ayah akhirnya dengan entengnya bertanya,“Ibu di mana? Sedang ke pasar, ya?”
Dengan susah payah menahan perasaan emosi, aku menceritakan kematian Ibu kepada Ayah. Ayah tentu saja terkejut. Tetapi betapa kecewanya aku saat Ayah tidak langsung menanyakan di mana Ibu dimakamkan. Ayah malah masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.
Esoknya, tiba-tiba Ayah menawariku tinggal bersama pamanku di Jakarta untuk mencoba mencari pekerjaan. Saat itu aku memang belum lama lulus SMA dan belum memiliki pekerjaan tetap. Meski begitu, aku menangkap maksud lain dari tawaran Ayah.
“Ayah ingin menyingkirkanku sehingga Ayah bisa tinggal bersama istri baru Ayah?” ucapku sinis.
Ayah tampak terkejut mendengarku. Wajahnya seperti seorang pencuri yang baru tertangkap basah melakukan kejahatan. Juga mirip ekspresi anak SD yang ketahuan mengompol di celana. Aku juga sedikit terkejut melihatnya. Apakah Ayah mengira bahwa dia benar-benar bisa menyembunyikan hal itu dari aku dan Ibu?
“Kalau begitu, silakan saja tinggal bersama wanita murahan itu. Aku takkan mengganggu,” tambahku. Kuluapkan semua emosiku yang selama ini telah kupendam.
“Jangan kurang ajar kamu, Rendi!” Ayah juga tersulut emosinya.
Aku tak terlalu ingat persis bagaimana awalnya hingga kami berdua terlibat perkelahian. Suatu hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang ayah dan anak, tentunya. Ketika Ayah mengambil asbak untuk memukulku, aku langsung mengangkat bangku kayu dan memukulkannya lebih dulu ke kepala Ayah. Aku tidak tahu setan mana yang merasuki diriku. Tanpa ampun kupukulkan kursi bangku itu ke tubuh Ayah berkali-kali hingga Ayah tidak lagi mengeluarkan suara.
Aku berhenti sambil terengah-engah kelelahan. Kutatap tubuh Ayah yang tergeletak di lantai. Tiba-tiba cairan merah kental mengalir di atas lantai dari tubuh Ayah. Cairan itu tak kunjung berhenti membuatku jantungku terasa berhenti. Langsung kuperiksa tubuh Ayah. Kemudian aku menyadari satu hal. Aku telah membunuh Ayah.
Malam kembali, pagi kembali, sekolah kembali, tertidur dikelas kembali, menjadi bahan gurauan guru-guru didalam kelas, kembali. Sama seperti hari sebelumnya. Sama seperti yang selalu kubayangkan tentang hidupku.
Seolah aku hanya sebuah bayangan yang tak akan pernah mampu memburu tubuhku sendiri. Dimana aku ada, hanya sebagai pigura kehidupanku yang seharusnya. Aku mungkin sebenarnya hanya sebuah kabut tipis di pagi yang menjelang terang, dimana tak ada seorangpun yang menyadari keberadaanku. Terang datang lalu kabut itu perlahan hilang, bersembunyi di balik tembok ketidak dianggapan.
Sekolah menjadi bagian kehidupanku dimasa ini, dimana manusia mendapat posisi kehidupan dengan jalan itu.
Tak ada aku pun sekolahku tak akan rugi, atau mungkin sebenarnya akulah beban utama bagi mereka. Hadirku tak hadir.
Gurauan-gurauan yang terjadi didalam kelas, antara mereka anak-anak kelas, tak sedikitpun aku berperan. Duniaku seolah hambar bagi mereka, imajinasi-imajinasi yang mereka anggap aneh dalam diriku, candaanku yang tak pernah bisa mereka anggap lucu. Kini aku sebenarnya dijauhi karena keanehanku. Membuatku merenung tentang siapa aku. Apakah aku lain dengan yang lain, apakah aku beda dengan yang beda.
Didalam kelas ini, sendiriku ku buat dalam dimensi duniaku sendiri, diamku sebenarnya ramai dalam hatiku. Temanku terimajinasi dalam otakku, yang kuciptakan sesuka hatiku, yang ku narasikan semau apa yang ku ingin. Ramai, sepi, gurauan, hinaan, bahkan menggambarkan aku dalam peperangan bisa aku goreskan dalam imajinasiku. Temanku adalah diriku, yang bisa aku bunuh sewaktu-waktu dan kuhidupkan ketika ku rindu.
Waktu terus berjalan, jam-jam pelajaran berlalu tanpa aku merasakan mereka ada dan untukku mereka diadakan. Waktuku kuhabiskan untuk bercengkrema dengan diriku sendiri, menafikkan lingkungan sosial sekitar, bahkan kadang tak sadar aku ditemani manusia nyata satu meja dikelas ini. Dia pun lebih sering bercerita ria disaat waktu luang dengan mereka meja sebelahnya. Aku hanya diam, aku tak bisa menarasikan perbincangan. Satu masalah terkadang ku bicarakan kepadanya, tapi dua tiga kalimat keluar dari mulutku saja, setelah itu kata-kataku hambar. Bahkan ditelingaku sendiri.
Aku lebih mudah menjawab dari pada bertanya. Walaupun beribu pertanyaan berputar-putar dalam otakku, tak satupun layak untuk ku utarakan bagi mereka anak-anak kelas. Karena pertanyaan itu seperti lingkaran yang jika dijawab, jawaban itu adalah pertanyaan. Semua pertanyaan itu terkadang menggempur di saat-saat aku harus beristirahat memejamkan mata di gelap malam. Jam pelajaran kembali berlalu, tanpa aku paham apa, mengapa, dan bagaimana isi pelajaran tadi.
Pak Sudrajat melangkah memasuki kelas, sepatunya bersuara tak-tak-tak. Membangunkan lamunan panjangku, wajahnya tersenyum memandang kesetiap sudut kelas. Melihat-lihat sekitar mencari yang janggal.
“Di… maju sebentar!,”
Aku tersentak dalam diam, bingung dan takut. Ketidak mampuanku dalam mata pelajaran selalu menakutiku ketika para guru memberi perhatian kepadaku. Langkah lunglai menuju kedepan di iringi pandangan seisi ruang kelas. Pandangan sumringah yang mungkin mereka harapkan dariku hal kebodohan yang bisa ditertawakan.
“Tolong hapuskan papan tulis Di!...”
“Iya pak,…” beliau tersenyum saja melihatku.
“Kamu jangan duduk dulu, bapak minta tolong sekali lagi…” beliau berdiri dari kursinya, menanyakan pekerjaan rumah yang ia tugaskan kepada semua anak. Sambil sesekali memandang wajahku yang mulai tak tenang. Beliau terus berbicara, menanyakan hasilnya, apakah sulit untuk dikerjakan kepada anak kelas, dan membiarkan aku berdiri didepan layaknya seorang yang berada diatas podium, sedang dipersilahkan untuk mengutarakan pandangannya terhadap sebuah permasalahan, oleh seorang pembawa acara, pak Sudrajat.
“Adi sudah mengerjakan?...”
“Sudah pak, tapi belum selesai…” jawabku lemah.
“Tidak papa, kerjakan satu soal di papan ya,… nanti bapak bantu kalau kesulitan,”
Kuambil satu kertas di dalam tas setelah mencari dalam berserakannya isi tas itu, hanya ada satu buku tulis yang selainnya adalah kumpulan kertas hvs tempat ku menuangkan gambar-gambar dan tempat catatan-catatan kecil pelajaran. Dari sepuluh soal mtk, telah kujerjakan lima diantaranya dan dua soal berhasil kuselesaikan, tanpa ku yakin kebenarannya.
Spidol hitam bergerak membentuk angka-angka di papan, di dalam genggamanku ia tidak mantap seolah ingin meloncat didorong oleh ketidak percayaan diriku akan hasil yang telah aku kerjakan sendiri. Berulang-ulang penghapus merecoki hasil kerja si sepidol, mencoba memperingati spidol bahwa karyanya memiliki cacat, tapi apa daya sepidol memiliki kuasa, dia terus menulis dalam genggaman tangan kanan, tempatnya agung di kanan, sedang penghapus adalah sisi bijaksana yang selalu berusaha menghapus kesalahan sepidol, sedang berada di sisi tangan kiri. Seolah sisi kanan-kiri menyimbolkan kedudukan dan nilai tersendiri sehingga benda apapun yang berada di sisi kanan adalah lebih baik, kiri dengan kerendah hatiannya menerima nasibnya karena di tempatkan sebagai negative oleh system perspektif. Maaf… maaf,… aku menghidupkan benda mati dalam imajinasiku. Aku tak bermaksud. Diri dalam diriku yang lain tak sadar baru saja terbangun.
“Sudah pak…,”
“Oh sudah… sekarang kamu boleh duduk, terimakasih atas kerjaan PR mu,…” aku tersenyum dan berjalan menuju bangku ku di pojok belakang. Langkahku mantap berbeda dengan saat ku maju.
“Nah… Ini kerjaannya Adi betul, … kapan kamu ngerjakan soal ini Di?,…”
“Tadi malam pak,…”
“Yang lain, ada yang mau maju nomer selanjutnya?,…” pak Sudrajat menawarkan tugasnya kepada yang lain. Andai malam tadi aku bisa tertidur pulas lebih awal, dan tak terpenjara dalam pertanyaan kenapa aku tidak bisa berhenti untuk berfikir… soal itu tak akan tersentuh.
Tiga anak perempuan sedang duduk bergurau menunggu satu loyang Pitza pesanannya. Malam itu Rina sedang mentlaktir dua temannya Indri dan Susi karena nilai pelajaran olah raga Rina naik dari biasanya enam sekarang menjadi delapan. Malam itu demi merayakan kenaikan nilai tersebut, Rina sudah mentlaktir dua sahabatnya dengan nonton bioskop, shoping di Mall-mall besar jantung kota dan melepas lelah di ruang karaoke sampai akhirnya mereka merasa lapar.
Disuatu rumah kampung sejahtera. “Kenapa kamu pulangnya terlambat?...” bertanya ibu Mulyasertaningrat kepada anaknya Mulyono Budi Utomo melihat anaknya pulang terlambat dengan wajah kusam dan baju kusut. Mulyono hanya diam saja ibunya menginterograsi keterlambatan pulangnya hari senin ini. Dihari pertama Mulyono masuk sekolah SMA MAHALSEKALI setelah liburan semester biasanya sekolah akan memulangkan murid-muridnya lebih awal. Tetapi apa yang terjadi hari itu diluar dugaan Ibu Mulyasertaningrat, anak kesayangannya pulang terlambat. “Ayo sini sayang, duduk di samping Ibu, kamu ceritakan kenapa kamu terlambat pulang?...”
oleh: aksaris Desa kami kedatangan seorang tamu. Tamu yang istimewa. Di kota, profesi beliau disebut motivator. Yang dilakukannya adalah memberi semangat kepada orang lain. Orang kota memang hebat. Banyak hal bisa dijadikan pekerjaan. Bahkan memberi semangat bisa dihitung sebagai pekerjaan.
Motivator tersebut didatangkan ke desa kami oleh kepala desa. Katanya sang motivator bakal mengadakan seminar kepada para warga desa. Panggung dan kursi sudah disiapkan dib alai desa. Kepala desa jauh-jauh hari sudah mengabarkan hal ini. Beliau mengharapkan agar kami, seluruh warga desa bisa hadir dalam acara tersebut.
Disuatu hutan di pulau Jawa lima miliar tahun yang lalu, hiduplah sekelompok orang, mereka menamakan kelompoknya suku Brok. Kepala suku Brok pada saat itu bernama Kruk. Kepala suku Kruk sedang sangat bingung, anak satu-satunya adalah perempuan. Jabatan kepala suku tidak bisa di turunkan kepada seorang perempuan. Umurnya sudah sangat tua, sehingga dia harus berfikir keras agar kelak pemimpin sukunya adalah keturunannya.
Pernah sekali dalam sejarah suku Brok, kepala sukunya hanya memiliki satu anak perempuan. Anak perempuan itu oleh bapaknya yang kepala suku, ingin di angkat sebagai penggantinya. Tetapi warga suku Brok semuanya menolak. Perempuan anak kepala suku bergaya hidup sangat mewah, ketika warga suku Brok hanya makan ubi jalar, perempuan anak kepala suku memakan ubi pohon dengan campuran parutan kelapa. Ketika warga suku Brok hanya memakai pakaian dari pelepah pohon pisang, perempuan anak kepala suku memakai pelepah pohon pisang dengan aksesoris kerang. Sangat mewah. Semua warga tidak suka kepadanya.
Disamping vespa tua berwarna hitam, aku masih berdiri melihat-lihat keadaan. Pak Mulyono bisa saja curiga mungkin-mungkin jok vespanya ditempeli permen karet lagi. Tapi tenang pak, targetku bukan lagi celana hitam bapak yang terkena permen karet. Tas di belakang pos satpam itu yang utama.
Aku tak pandai berakting, sehalus-halusnya gelagatku menuju belakang pos, tetap saja rasanya was-was. Andai-andai pak Mulyono menanyaiku apa aku harus selalu berbohong kepadanya. Terakhir aku beralasan keluar gerbang untuk fotokopi, padahal untuk membolos dua jam mata pelajaran terakhir di hari Sabtu.
Istirahat kedua tak terlalu panjang, kesempatan untuk mengambilnya sangatlah singkat. Aku tak bisa melewatkan momen ini. Sudah dua guru memarahiku karena dianggap tidak membawa buku pelajaran.
Pak Mulyono terlihat santai dengan Koran harian nya. Terjaga dengan berita-berita artis ibu kota. Dengan segelas besar teh di sampingnya. Aku mencoba melewati pos nya, berjalan sewajar-wajarnya mencoba menuju samping gerbang untuk selanjutnya masuk sela-sela sempit antara tembok pos dan tembok pagar sekolah.
Dua langkah lagi aku akan sampai di samping gerbang, hingga sebuah mobil silver datang dari luar gerbang membunyikan klaksonnya. Sontak pak Mulyono berlari membukakan gerbang sekolah. Aku masih berdiri diam, melihat orang-orang yang ada di dalam mobil. Satu orang laki-laki tua dan seorang gadis sebayaku. Gadis itu duduk di kursi belakang dengan tatapan mata yang kosong. Mungkin sama kosongnya dengan otakku.
Mobil silver sudah masuk menuju area halaman sekolah, setelah pak Mulyono berbincang singkat dengan supirnya. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas bukan masalah anak laki-laki kusam yang berdiri di samping gerbang sekolah. Maksudnya tak terdengar olehku.
Semestinya pak Mulyono masuk kembali ke dalam posnya, meminum tehnya dan melihat gambar-gambar iklan di korannya. Tapi, dia menatapku, cukup lama, dengan tatapan penuh curiga. Aku laki-laki kusam yang sedang gelisah pun merasa curiga. Apa dia akan meminta ganti rugi celananya. Bukan, apa dia menemukan tas coklat itu. Ataukah mungkin saja tas itu sudah berada di kantor ruang BK. Dan mungkin pengeras suara akan memanggilku.
Lima detik berlalu. Enam, tujuh, delapan.
“Bajumu itu ada yang keluar, masukin…,”
“ohh.. iya pak…,”
Setelah pak Mulyono masuk kantor, aku langsung menuju sela-sela tembok. Tas itu masih aman di singgahsananya. Tergeletak diantara rumput-rumput kuning yang empuk. Ditemani plastic-plastik jajanan yang berserakan. Aman.
Aku mengangkatnya kubawa di pundakku, menuju kelas kembali. Dalam euphoria keberhasilanku, mendapatkan tas yang membuatku resah itu, pikiranku kosong hingga lingkungan sekitarpun tak aku pedulikan.
“Eh… kamu mas,… mau bolos ya? Bawa tas keluar kelas…,” suara keras tinggi mengagetkan langkahku setelah melewati vesta tua hitam. Wajah sumringah euphoria keberhasilan menjelma menjadi bak tersambar petir, kusam pudar hilang sinarnya dan bingung. Pak Mulyono semakin dekat.
“Gak pak, itu pak mau fotokopi buku…,”
“Uwis, gak usah bohong lagi, mana bukunya? Coba lihat isinya…,” mengambil tas tanpa basa-basi dan membuka-buka melihat isi didalamnya.
“Orang cuma bawa buku satu, buku tulis lagi… sudah tas mu bapak sita di pos, nanti pulang sekolah kamu ambil…,”
"Sambungan Cerpen ini belum ketemu filenya, mohon tunggu ya bang"