Thursday, November 23, 2017
Serangan Bertubi-Tubi di Malam Minggu
Malam ini aku masih duduk sendiri di
warung lesehan dekat kampusku, seperti malam-malam minggu sebelumnya.
Seperti biasa nasi kepala ayam dengan porsi besar selalu aku pesan untuk
memuaskan perut. Sebagai seorang pelanggan yang datang tanpa teman,
selalu saja ada pihak yang berani menyinggung keadaan ini
Pertama, bapak pemilik warung.
“Dul, pesen apa?…” Beliau sudah mengenal namaku, Abdul.
“Biasa pak, kepala ayam, nasinya ditambah, terus sambel bawangnya dobel…”
“Minum-Minum?…”
Dengan nada mantap aku menjawab.
“Putih!!!…”
“Putih? Oke-oke deh Dul, air putih, porsi besar juga airnya?…”
“Gelas besar?…”
“Ngga dua gelas, tapi pake gelas kecil saja Dul?…”
“Lah Buat apa Pak?…”
“Oh iya, bapak lupa, kamu kan sendirian kesininya…”
Tiba-tiba pelanggan lain, mas-mas
berbadan kekar, pesan dengan menu yang sama dan dua porsi. Lalu mas-mas
yang pesan tadi, melirik sinis penuh kemenangan. Dia lalu duduk
menghampiri pasangannya yang kebetulan posisinya berdekatan dengan
tempat dudukku. Setelah dia duduk, maka status pihak kedua telah dia
miliki.
Pesanan lama tidak kunjung matang, perut
yang keroncongan semakin tak bisa diajak diam, akhirnya saya yang diam
saja membuka hp, berharap ada pesan datang. Tapi, sepertinya tidak ada
pesan datang. Akhirnya ku habiskan waktu menunggu dengan bermain game
Sudoku. Lama bermain otak terasa ngilu oleh angka-angka antara 1 sampai
9. Sampai akhirnya otak buntu tidak bisa menjawab kotak kosong
permainan, tiba-tiba tangan secara spontan pengeplak meja kayu warung.
Plak…
“Kalau Haus bilang, ga usah pukul-pukul
meja makan!!!…” seolah jantung mau copot saja, pak penjual warung
lesehan datang dengan air putih di nampannya.
“Ini minumnya…”
“Ko 2 gelas kecil Pak?…”
“Owalah lupa, ini buat mas sama mba itu…”
Setelah kejadian itu, pihak pertama
sudah melakukan serangan keduanya. Tak lama berselang, gelas besar
berisi air putihku pun datang. Bukan hanya air putih, air kobokan pun
tidak ketinggalan. Aroma ayam goreng sudah menusuk-nusuk pucuk hidung
pesek, sepertinya pesanan akan datang.
“Kek… Nanti kita makannya ditaruh kelasa saja ya, ga usah di meja makan!…”
“Oh iya Nek siap… suapin juga ngga Nek?…”
Kedua pasangan sejoli dengan panggilan sayang kakek nenek telah merencanakan serangan kedua mereka.
Terlihat datang satu pasangan kekasih
lagi, mereka sedang memesan makanan kepada bapak penjual. Sekilas mereka
tampak ragu melihat tidak ada meja kosong yang tersedia. Aku sebagai
orang yang sendirian menggunakan meja, maka sudah dipastikan mereka akan
datang dan meminta izin untuk duduk bersamaku. Benar adanya, sekarang
mereka berdua duduk tepat dihadapanku.
Satu hal yang saat ini aku rasakan
adalah perasaan canggung, dimana posisi tidak menguntungkan diapit oleh
dua pasangan yang sedang mengadu sajak asmara. Terlebih mereka terlihat
melihat sirik gelas besar berisi air putihku dan air kobokan yang
menemaninya.
Suara langkah kaki terdengar
menghampiriku, pesanan telah datang. Sepiring penuh nasi, kepala ayam
dan dua buah porsi sambal bawang siap di santap. Tanpa basa-basi aku
langsung menyantap makan malamku itu.
“Kek… cuci tangan dulu, baru makan!…”
“Iya Nek… maaf Kakek lupa…”
Serangan kedua telah dilancarkan. Lalu aku mencuci tangan di kobokan.
“Katanya mau di bawah saja Nek makannya…”
“Oh iya Kek… ayo pindahin kebawah…”
Pasangan dengan panggilan kakek nenek
yang berada tepat disampingku berulah, sekarang aku harus sedikit
menggeser badan karena mereka memakan ruang dudukku. Sialnya, kenapa
harus yang laki-laki yang duduk di sampingku. Ketika dia makan di bawah,
aku seperti sedang dipantati olehnya. Aduh pantatmu mas-mas. Serangan
ketiga dari mereka telah dilancarkan.
Akhirnya mereka makan dengan tenang, aku
pun makan dengan tenang. Ditengah nikmatnya kepala ayam dan sambal
bawang, pesanan pasangan kekasih yang duduk tepat di depanku datang. Dua
porsi dada ayam dan dua gelas geruk anget nangkring di meja makan.
Aku sesekali memperhatikan perangai kedua orang didepanku, mereka menata rapi makananya dibuat sesimetris mungkin.
“Haem… Haem… Huah-Huah (mulutku pedas panas)…”
“Mas, boleh minta tolong tidak?…” perempuan yang duduk di hadapanku tiba-tiba membuka suara kepadaku.
“Mminntraa tlolong appa ya?…” mulutku yang penuh dengan makanan mencoba menanggapinya.
“Fotoin kita berdua dong, makanannya juga kena ya mas!…”
Serangan pihak ketiga baru saja mengenai tetap di sasaran.
Aku langsung saja meminum air putih, mencoba menghindari seret di tenggorokan.
“Tangan saya kotor loh…”
“Yang kiri bersih to mas, tolong ya…”
Akhirnya hp mereka sekarang sudah berada di tangan kiri ku.
“Pencet di bagian ini ya mas,…”
“Aku juga tahu mba…
Singkat cerita mereka berpose dengan gaya peace dan gaya jempol diacungkan.
Tak mau kalah dengan pasangan kekasih
yang duduk di depanku, pasangan kekasih yang sedang makan di sampingku
juga mengeluarkan hpnya. Mereka berfoto berdua dengan memegang kepala
ayam di tangannya. Tanpa mereka sadari mulut mereka mengkilap oleh
minyak goreng. Jepret.
Jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Suara
radio di warung itu sekarang berganti acara. Serangan dari pihak luar
warung sedang menggelombang diudara. Tema yang hangat dibicarakan di
acara radio adalah, “seperti apa malam minggu kalian lalui.”
Sms bertalu-talu dibacakan oleh DJ
radio, dari sekian sms tidak ada satupun jomblo yang mengirimkan smsnya.
Saat itu juga aku mati telak. Lagu pertama diputar, dengan nada dan
lyric yang sesuai dengan suasanaku.
Aku telah selesai menyantap makan
malamku. Mulutku masih terasa sangat pedas, maka secara pertahan aku
minum air putih digelasku. Tiba-tiba hp ku bergetar, aku langsung
melihat apa gerangan yang menggetarkannya. Ternyata sms masuk. Sms dari
operator jaringan.
Tidak berselang lama, si cwe yang duduk di depanku mengeluarkan hpnya juga. Terlihat dia membuka aplikasi sosial media.
“Yang… foto kita yang like udah 32 orang…”
“Masa si de… wah iya… yuk kita foto lagi…”
Terus.
“Mas Foto in lagi dong!!!…”
Dengan pasrah dan seyum palsu aku sanggupin permintaan kedua mereka.
“Ciss… Jepret…
“Mas minta fotoin ngga?…”
Tanya si cwe.
“Ngga usah mba, makasih…” jawabku.
“Sendirian sih ya mas?…” serangan langsung telah terjadi.
Dengan berat aku pun menjawab.
“He… Iya…”
“Nanti kalau mas nya mau foto tinggal bilang saya, biar kita gantian mas…”
“He… Iya…” sepertinya itu tidak mungkin.
Tiba-tiba ada tangan yang menepuk
pundakku dari belakang, aku langsung menoleh cepat. Seorang wanita
cantik berdiri tepat dibelakangku. Pasangan kekasih yang duduk di
depanku, pasangan kekasih yang sedang makan disampingku dan seorang
bapak yang menjual kepala ayamku langsung serentak memandang wanita itu.
“Ini kamu pegang dulu ya? Jangan sampai nangis loh… aku mau ambil uang dulu di ATM..”
Wanita itu langsung pergi dan
meniggalkan seorang bayi mungil di pangkuanku. Dia adalah teman satu
kelasku di kampus yang sudah punya anak. Aku yang melongo mengusap-usap
bayi lucu itu.
“Wah… kita foto bareng ade lucu boleh tidak mas?…” tiba-tiba pasangan kekasih yang berada disampingku meminta foto.
“Kita juga ya mas, foto bareng ade lucunya mas…”
Singkat cerita kita semua foto bareng-bareng.
Dari sekian banyak serangan yang
terjadi, bayi mungil ini telah menyelamatkanku dari status jomblo.
Mereka mengira itu adalah anakku.
Cwe yang duduk di depanku menggendong
dan menimang bayi itu, sambil berkhayal kepada kekasihnya akan memiliki
bayi lucu seperti yang sedang dia gendong.
~J~
Wanita ibu bayi lucu yang sedang aku
gendong datang dari urusannya mencairkan uang. Lalu dia duduk
disampingku dan mengambil bayinya. Masih dengan suasana riang atas
kehadiran bayi lucu itu. Datanglah petaka.
“Anak masnya namanya siapa ya?…” Cwe pasangan kekasih yang berada disampingku bertanya dengan polosnya.
Aku bingung menjawabnya, dan.
“Nama anakmu siapa Fat?…” tanyaku pada Fatma teman kelasku.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment