“Kenapa kamu pulangnya terlambat?…” bertanya ibu Mulyasertaningrat
kepada anaknya Mulyono Budi Utomo melihat anaknya pulang terlambat
dengan wajah kusam dan baju kusut.
Mulyono hanya diam saja ibunya menginterograsi keterlambatan
pulangnya hari senin ini. Dihari pertama Mulyono masuk sekolah SMA
MAHALSEKALI setelah liburan semester biasanya sekolah akan memulangkan
murid-muridnya lebih awal. Tetapi apa yang terjadi hari itu diluar
dugaan Ibu Mulyasertaningrat, anak kesayangannya pulang terlambat.
“Ayo sini sayang, duduk di samping Ibu, kamu ceritakan kenapa kamu terlambat pulang?…”
Ibu Mulyasertaningrat memegang tangan Mulyono dan menariknya untuk duduk bersebelahan di kursi sofa empuk gaya Eropa.
“Jangan diam saja dong sayang, Ibu tidak menggigitmu ko, cerita ayo
sama Ibu…” tangan Ibu Mulyasertaningrat membelai-belai rambut anak
kesayangannya.
“Tapi…”
Mulyono melihat wajah ibunya dengan gelisah. Sementara Ibunya memandang wajah gelisah itu dengan senyum termanisnya.
“Tapi kenapa sayang… Cerita ayo…”
“Janji ya bu…”
“Janji apa,…” jawab Ibu Mulyasertaningrat sambil mengelus-elus rambut Mulyono.
“Janji Ibu tidak marah…”
“Loh… Kenapa Ibu harus marah… Ibu kan sayang Mulyono…”
Mulyono menghela nafas dalam-dalam, tangannya begitu tegang kaku penuh rasa kalut di dalam dadanya.
“Iya… Mulyo cerita ya bu,…” menarik nafas dalam-dalam.
“Jadi tadi sepulang sekolah sepedaku yang ‘seharga lima juta’ yang
Mulyono pakai ‘ban nya bocor’…” dengan wajah menyerngit ketika
mengatakan kata lima juta.
“Iya terus…”
“Ban nya bocor di jalan sepi daerah hutan seberang sungai besar yang
memisahkan dua kampung sejahtera dan kampung kurangajar itu Bu, di sana
tidak ada bengkel sepeda Bu…”
“Bengkel untuk sepeda yang ‘harganya lima juta’ milikmu di situ belum
ada bengkelnya ya, besok Ibu bikin bengkel khusus buat kamu sayang…”
terang ibu Mulyasertaningrat dengan wajah tereyuh yang terus merubah
menjadi wajah bangganya.
“Karena di tengah jalan sepi di tengah hutan itu belum ada bengkel
jadi Mulyono menuntun sepeda yang seharga lima juta itu menyusuri jalan
sepi di tengah hutan itu…”
Wajah ibu Mulyasertaningrat semakin serius mendengar anak semata wayangnya bercerita kesialannya.
“Aduh anakku sayang… Tapi kamu tidak ada luka kan menuntun sepeda di jalan sepi tengah hutan di kawasan kampung kurangajar?…”
“Alhamdulillah Bu, selamat… Sepeda yang ‘harganya lima juta’ juga selamat…”
“Alhamdulillah… Mana sepedamu yang ‘harganya lima juta’ sayang?…”
“Sudah digarasi Bu…”
“Alhamdulillah sepeda ‘seharga lima jutanya’ selamat, biar ibu cek ya sayang!…”
Ibu mulyasertaningrat berdiri dan berjalan menuju garasi rumah yang
luasnya hampir seperdelapan stadion Gelora Bung Karno. Mulyono mengikuti
ibunya menuju garasi tepat dibelakangnya.
“Oh iya, sepeda yang harganya lima juta kamu selamat sayang,… Ibu
jauh-jauh loh beli di New York pas Bapakmu dapat bonus jalan-jalan sama
bapak bupati… Loh ko ban nya sudah tidak bocor sayang?…”
Mulyono melongo mendengar pertanyaan ibunya tersebut.
“Anu bu… Anu… Mending Mulyono cerita sambil ibu dan Mulyono duduk di sofa empuk gaya Eropa di ruang keluarga lagi ya bu…”
“Oh… Iya… Ayo ibu juga seneng duduk di sofa empuk gaya Eropa itu
sambil Facebookan, nonton Video Youtube drama korea… Ayo-ayo sayang ke
sofa empuk gaya Eropa…”
“Iya-iya Bu…”
Mereka berdua berjalan melewati beberapa ruangan besar sebelum sampai
di ruang keluarga yang semi terbuka, karena di samping ruang tersebut
terdapat taman bunga besar untuk memanjakan mata dan mensuplai udara
sejuk ke ruang keluarga itu.
“Ayo cerita lagi sayang, kita kan sudah duduk di sofa empuk bergaya Eropa…”
“Iya bu, jadi begini ceritanya bu…” Mulyono mulai kembali bercerita
kepada ibunya dengan bersemangat setelah melihat wajah ibunya yang
berseri-seri setelah dari garasi rumah.
“Setelah sekitar setengah jam Mulyono menuntun sepeda, Mulyono sudah lelah banget itu bu,…”
“Kasian anak Ibu lelah…” Ibu Mulyono mengelus-elus rambut anaknya.
Menghela nafas, “Iya karena Mulyono kelelahan, jadi Mulyono istirahat
di bawah sebuah pohon besar berdaun lebat dengan akar yang besar juga,
Mulyono duduk di akar besar itu dan bersandar pada batang pohonnya Bu…”
“Hahh… Anak ibu duduk di akar dan bersandar di batang pohon besar
hutan kawasan kampung kurangajar… Berarti sofa empuk gaya Eropa ini
sudah terkotori dengan kotoran dari kampung kurang ajar… Ibu akan
menggantinya…”
“Anu itu bu… Jangan diganti dulu…” potong Mulyono kepada perkataan gelisah ibunya.
“Jadi sebelum Mulyono duduk di akar dan bersandar di batang pohon
besar daerah kampung kurangajar itu, mulyono sudah memberi alas di akar
pohon dengan kain tisu dan Mulyono memakai baju olah raga sebagai
pemisah antara baju sekolah Mulyono dan batang pohon besar daerah
kampung kurangajar…”
“Syukurlah… Jadi kamu tidak terkontaminasi kotoran pohon dari kampung
kurangajar kan sayang… Lah terus baju olah raga dan kain tisunya
mana?…”
“Mulyono buang di jalan bu,… Ga apa-apa kan bu, kan keluarga kita
kaya raya bisa membeli seragam olah raga dan kain tisu banyak…” wajah
Mulyono menyerngit ketika mengatakan kata keluarga kita kaya raya, kata
yang sangat disukai oleh ibu Mulyasertaningrat.
“Iya tidak apa-apa dong sayang, keluarga kita kan kayaraya…”
“Setelah baju olah raga dan kain tisu nya Mulyono buang, Mulyono
meneruskan perjalanan menuntun sepeda yang harganya lima juta itu bu,
berjalan… Berjalan… Menelusiri siang yang teduh di hutan kampung
kurangajar bu, tapi sesekali Mulyono menengok kebelakang, melihat jauh
dimana baju olah raga Mulyono buang… Mulyono melihat anak sebayaku
memungut baju olah raga Mulyono bu,… Ga apa-apa kan di pungut bu?…”
“Iya ga apa-apa lah sayang, warga kampung kurangajar memang pantas memungut barang buangan warga sejahtera sayang…”
“Baguslah bu,… Terus karena Mulyono penasaran, jadi Mulyono
menghampirinya anak tersebut… Anaknya cantik loh bu, hehehe…” nyengir
lebar.
“Loh… Kamu ko malah mendekatinya MUL… Itu tidak boleh sama peraturan
di kampung sejahtera, tidak boleh berinteraksi dengan kampung miskin
seperti kampung kurangajar, mereka itu kotoran,…”
“Kenapa mereka dianggap kotoran bu?…”
“Kamu ko bisa tidak paham sih, ya secara kita kan warga kampung
orang-orang kaya, banyak pengusaha sukses dan pegawai kabupaten tinggal
di kampung kita, kamu tahu tidak bapakmu kan pegawai kabupaten jadi
punya rumah besar di kampung sejahtera kita ini…duitnya juga banyak,
beda dengan mereka… “kampung kurangajar” hehh… satu hal yang membuat
mereka menjadi kampung sampah, karena ada satu orang di kampung itu lima
belas tahun lalu, mencuri baju di jemuran kampung sejahtera, pencuri
itu adalah sampah masyarakat, karena pencuri itu berasal dari kampung
kurangajar maka otomatis semua yang tinggal disana adalah sampah… Sampah
itu kotor sayang”
“Tapi Mulyono sempat ke rumahnya bu, makan siang di rumahnya, dan
bapaknya juga menambal sepeda seharga lima juta itu bu,…” tabrak
kata-kata ibunyaMulyono begitu bersemangat.
“HAAAHHHH…. APA…. MULYONOOOO…. KAMU… GRRR KAMU, IBU MARAH BESAR,… AYO IKUT IBU…”
Ibu Mulyasertaningrat menarik tangan Mulyono menuju kamar mandi.
”Ayo buka bajumu, cepet buka bajumu Mul…”
“Ampun bu, ampun…”
Belum sempat Mulyono membuka baju Ibu Mulyasertaningrat sudah mengguyur tubuh anaknya dengan air dingin. buka bajumu
“Kamu harus dicuci, agar kotoran kampung kurangajar tidak berkembangbiak di rumah kita, ayo disabun sampe keset…”
Ibu Mulyasertaningrat memandikan anaknya yang dianggapnya terkena kotoran kampung kurangajar.
“Sudah lima sabun batangan habis bu, apa belum cukup menghilangkan kotoran kampung kurangajar?…”
“Deterjen mana… DETERJEEENNN….”
“Ibu… Jangan bu, ibu masih sayang Mulyono kan? Jangan bu, TOLONG…. Rupiah sedang anjlok, deterjen di supermarket sedang mahal…”
Ibu Mulyasertaningrat melongo.
“Betul kamu betul… Ya udah sekarang kamu handukan, kita harus cepat membersihkan sisa-sisa kotoran dari kampung kurangajar…”
“Iya bu…”
Ibu anak itu berjalan menuju kamar Ibu Mulyasertaningrat, kamar
dengan lima kaca pengilon besar dengan seabreg kosmetik dan parfum milik
ibu Mulyasertaningrat, sepuluh lemari pakaian yang terbuat dari kayu
jati terbaik, dan satu buah ranjang kasur empuk limited edition
pengrajin kayu dari gurun sahara.
“Dimana ya… Dimana… Aduh Ibu taruh parfum supernya dimana?… Mul
tolong Ibu cari parfum super keluaran pabrik parfum legendaris dari
Perancis, mungkin parfum itu bisa menutupi aroma kotoran dari kampung
kurangajar, jangan sampai TETANGGA KITA MENCIUM BAU MEREKA DARI KAMU…
Tak terbayangkan…”
“Kalau parfum itu sangat mahal pasti ibu taruh di berangkas ruang bawah tanah!…”
“Betul kamu betul…” dengan nafas terengah-engah dalam karena jantung
ibu Mulyasertaningrat sedang meningkat aktivitasnya disebabkan pengaruh
kegalauannya membayangkan jika tetangga mereka mengetahui anaknya
berinteraksi dengan warga kampung kurangajar yang dianggap kotor karena
sejarah kelam kampung kurangajar memiliki seorang maling pakaian.
Mereka berdua berlari menuju ruang bawah tanah, ruang itu sangat
rahasia dan hanya diketahui oleh anggota keluarga saja sedang para
pembantu tidak mengetahui perihal ruang rahasia itu. Untuk bisa masuk
ruang itu ibu anak itu harus memasukkan kode rahasia yang tombolnya
terdapat di balik sebuah buku di salah satu rak ruang baca buku
keluarga, ruang baca itu memuat 39.578 eksemplar buku dan hanya ada dua
buah buku yang berbahasa Indonesia, yaitu kamus bahasa Indonesia Inggris
dan kamus bahasa Inggris Indonesia.
“Oke sekarang kita harus cari buku sejarah kampung sejahtera, dibalik
buku itu ada tombol untuk memasukkan sandi rahasia pintu masuk ruang
bawah tanah…”
“Ibu yakin kalau parfum super keluaran pabrik legendaris dari Perancis itu ada di brangkas itu?…”
“Iya…” singkat.
“Apa ibu lupa lokasi buku itu di rak mana?…”
“Iya, ibu lupa…” singkat.
“Hah… Terus gimana…”
“Ya kita cari sayang…”
Mungkin karena suasana hati ibu Mulyasertaningrat sudah lumayan tenang, anaknya kembali di panggil dengan kata sayang.
“Mulyono juga sayang Ibu…” mereka saling berpelukan.
~J~
Setelah satu jam ibu anak itu mencari buku sejarah kampung sejahtera,
akhirnya mereka menemukannya. Dengan perasaan yang sangat gembira
mereka menarik buku sejarah kampung sejahtera secara bersamaan.
“Setelah kita mendapatkan parfum super itu sayang, kamu harus membaca
buku sejarah kampung sejahtera, agar sayang bisa memahami betapa besar
masalah yang sedang kita hadapi…”
“Mulyono sayang ibu…”
“Ibu juga…” mereka saling berpelukan.
~J~
“Oke sekarang kita harus cepat menuju ruang bawah tanah….” (Tut… Tut…
Tut…) jari-jari ibu Mulyasertaningrat memencet tombol rahasia.
“Apa kode rahasianya bu?…”
“Dua puluh tiga angka enol!!!…”
“Oh…”
“Grrrr,…. (Aduh sudah berapa angka enol yang aku masukkan), sayang
jangan ajak Ibu ngobrol dulu ya, ibu lagi konsentrasi masukin kode
rahasia…”
“Kan cuma angka enol Bu…” ♩♪♫♬Silahkan coba lagi, jeda per angka kode paling lama adalah lima detik… lalalalala♩♪♫♬ (Suara nada notifikasi dari alat tombol kode rahasia). ♩♪♫♬Silahkan tunggu setengah jam untuk memasukkan kode rahasia kembali… lalalalala♩♪♫♬
~J~
(satu jam kemudian).
Ibu anak itu berada di dalam ruang bawah tanah, mereka berdiri di
depan sebuah berangkas baja berukuran besar dengan diameter dua meter.
Berangkas baja tersebut memiliki sistem keamanan yang sangat kuat,
dilengkapi dengan layar touchscreen sepuluh inci, berfungsi untuk
memasukkan kode rahasia berangkas baja itu.
“Ibu biarkan Mulyono yang memasukkan kode rahasia, aku akan membanggakan ibu…”
“Berjuanglah sayang, sekarang kamu pencet tombol bertuliskan start…”
Setelah Mulyono memencet tombol start, menyalalah layar berukuran sepuluh inci tersebut.
Layar tersebut memunculkan sebuah perintah.
Silahkan tekan tombol “Open the Door”
“Oke… Aku akan menekannya…”
“Berjuang sayang”
Setelah tombol “Open the Door” ditekan oleh Mulyono kembali muncul
langkah selanjutnya yang harus dilalui di layar touch screen sepuluh
inci tersebut,
“Hah… Ini kumpulan kotak apa Bu?….” Mulyono yang kebingungan memandang ke Ibunya.
“Itu adalah kotak permainan SUDOKU, kamu harus menyelesaikannya untuk membuka pintu…”
“Oke bu, ternyata tidak terlalu susah… haha”
~J~
(setengah jam kemudian)
“Oke… Tinggal angka terakhir, pasti game SUDOKU ini selesai…”
(TUT) tombol angka 6 dimasukkan di kotak sudoku di layar touch screen sepuluh inci berangkas baja. Selamat anda telah menyelesaikan permainan ini. Silahkan lanjutkan tahap berikutnya!. semoga anda beruntung.
layar monitor touch screen ukuran sepuluh inci tersebut kembali
memberikan intruksi. Tapi kali ini intruksi yang diberikan benar-benar
membuat bingung Mulyono.
“Maksudnya apa ini bu…”
“Ibu lupa sayang, kalau setelah sayang selesai menyelesaikan game
sudoku, sayang harus memasukan angka-angka yang pertama sampai terakhir
muncul di kotak sudoku tadi,…”
“Kenapa ibu baru memberi tahu Mulyono sekarang, Mulyono tidak hafal
angka berapa saja yang tadi dimunculkan…” mata Mulyono berkaca-kaca. Batas waktu anda memasukkan kode rahasia tinggal. 10 9 8 7
Sistem mulai menghitung mundur waktu penginputan kode sudoku pembuka berangkas baja. 3 2 1 Waktu anda habis. Silahkan tunggu lima belas menit untuk kembali memulai permainan. Selamat berjuang.
“Ibu apa aku harus memulai kembali game sudoku itu untuk membuka berangkas baja ini…”
“sabar ya sayang, kita tunggu lima belas menit lagi…”Ibu
Mulyasertaningrat mulai berkaca-kaca melihat perjuangan anak semata
wayangnya.
(satu jam kemudian)
“Akhirnya terbuka juga, kenapa permainan yang ini lebih susah dari
yang pertama,… Ibu ayo kita ambil parfum super keluaran pabrik
legendaris Perancis untuk menghilangkan aroma dari kampung kurangajar…”
Ibu Mulyasertaningrat memasuki berangkas yang telah terbuka, cukup lama dia mencari dimana keberadaan parfum super itu.
“Nah… Ini dia,… Sini sayang sekarang ibu semprotkan parfum super keluaran pabrik legendaris Perancis ini…”
(Srott… Srottt… Sroooottttt….)
“Cukup bu, cukup… Uhuk-uhuk… Jangan terlalu banyak, aku keplekiken…”
“Hmmm…. Hmmmm…. Sekarang aroma kotoran dari kampung kurangajar sudah hilang, bagaimana sayang wangi kan?…”
“Hmmmm… Hmmmm… Benar-benar wangi bu…”
“Mulyono sayang Ibu…”
“Ibu juga sayang Mulyono…” mereka saling berpelukan.
Ketika ibu anak itu sedang dalam suasana romansa keluarga bahagia
sentosa, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara telepon internal rumah.
Telepon internal rumah adalah telepon yang hanya menghubungkan antara
pembantu-pembantu yang ada di dalam rumah keluarga tersebut dengan tuan
rumahnya. Telepon itu terpasang di semua ruangan di rumah keluarga itu,
bahkan di taman pun di pasang telepon tersebut. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Tuulelelelet…. Ceklek…
“Dengan Bibi siapa?…”
“Dengan Bibi Karsiem, kepala divisi pembantu bagian ruang tamu…”
“Oh… Iya ada apa bi?…”
“Bu… Ada tamu, katanya dari kepolisian… Kelihatannya mendesak bu,…”
“Oke Bi, persilahkan masuk Pak Polisinya…”
“Pak Polisinya tadi langsung masuk bu, bahkan beberapa sudah menggeledah kamar Bapak…”
“HAPAAAAA….” Tuttt…….
Ibu anak itu berlari meninggalkan ruang bawah tanah menuju ruang tamu.
Di ruang tamu polisi terlihat berkeliaran menggeledah rumah ibu Mulyasertaningrat secara hati-hati.
“Maaf… Apakah anda Ibu Mulyasertaningrat? Istri dari Bapak Utomo Budi Badudi?…”
“Iya pak,… Maaf kenapa bapak polisi langsung menggeledah rumah saya
tanpa seijin saya, dan ada masalah apa dengan keluarga saya?…”
“Jadi begini bu, kami dari kepolisian dan juga Kelompok Pemberangus
Korupsi (KPK) telah menetapkan suami Ibu sebagai “pencuri” uang
Negara….”
“Untuk mengamankan barang bukti kami akan mengeledah rumah…” belum
sampai selesai pak politsi menjelaskan tujuan penggeledahan ibu
Mulyasertaningrat pingsan.
~J~
(Empat jam kemudian di rumah sakit)
“Aku dimana… Aku di…. Kenapa aku di rumah sakit…”
Mulyono melihat wajah ibunya yang pucat setelah pingsan berkepanjangan.
perlahan-lahan air mata Mulyono pun jatuh berurai memandang ibunya.
“Mulyono kenapa kamu menangis…”
”Ibu… Kenapa kampung kurangajar dianggap semuanya kotor?…”
“Karena dulu ada maling baju disana sayang…”
“Apa kampung kita akan di anggap kotoran juga bu?…”
“Kampung kita?…” Ibu Mulyasertaningrat berkaca-kaca.
“Hanya karena maling baju selama lima belas tahun mereka dianggap kotoran oleh kita, lalu kita akan dianggap apa?”
“MALING UANG NEGARA”
~J~
~J~
Buka bajumu, baju yang memalsukanmu.
buka bajumu, kulitmu lebih bersih untuk rakyatmu.
Buka bajumu, jangan gunakan baju hanya untuk menutupi kudis-kudis yang gatal.
Buka bajumu, kamu tau baju yang seharusnya kau kenakan. Buka Bajumu, buka bajumu
No comments :
Post a Comment